Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan sedikitnya 40 aset energi mengalami kerusakan berat hingga sangat berat akibat konflik yang melanda kawasan Timur Tengah. Kerusakan tersebut dilaporkan terjadi di sembilan negara dan mencakup berbagai fasilitas energi yang terdampak serius.
“Setidaknya empat puluh ... aset energi di wilayah ini rusak parah atau sangat parah di sembilan negara,” kata Birol saat berbicara di National Press Club di ibu kota Australia, pada 23 Maret 2026.
Birol menilai kondisi ini menjadi ancaman besar bagi perekonomian global. Ia memperingatkan bahwa tidak ada negara yang akan sepenuhnya aman dari dampak krisis apabila konflik terus berlanjut dengan arah yang sama.
Menurut Birol, krisis di Timur Tengah saat ini menimbulkan dampak gabungan yang dinilainya lebih berat dibandingkan dua guncangan minyak pada era 1970-an. Ia juga menyebut dampaknya melampaui efek yang terjadi pada pasar gas akibat perang Rusia-Ukraina.
Dalam perkembangan terkait respons kebijakan, Birol mengatakan IEA tengah melakukan konsultasi dengan sejumlah pemerintah di kawasan Eropa dan Asia mengenai kemungkinan pelepasan cadangan minyak tambahan. Ia menegaskan langkah tersebut akan dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasar secara menyeluruh, termasuk melalui analisis dan diskusi bersama negara-negara anggota.
Sementara itu, situasi di kawasan disebut semakin memanas ketika Iran tetap mempertahankan kontrolnya di Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan memberikan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka jalur tersebut bagi seluruh kapal.
Trump menyatakan jika permintaan itu tidak dipenuhi, Amerika Serikat akan mengambil langkah tegas dengan menargetkan infrastruktur pembangkit listrik Iran.