International Energy Agency (IEA) merilis rekomendasi langkah cepat untuk menekan dampak kenaikan harga minyak dunia di tengah gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam laporan terbarunya, IEA menyebut gangguan di kawasan tersebut, terutama di jalur vital Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak hingga menembus USD100 per barel dan sekaligus memperketat pasokan global.
IEA mencatat negara-negara anggotanya telah sepakat melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat. Namun, lembaga itu menilai langkah dari sisi pasokan saja tidak cukup. Pengendalian permintaan dinilai menjadi kunci untuk meredam tekanan terhadap konsumen.
IEA mengusulkan sejumlah langkah yang dapat segera diterapkan pemerintah, pelaku usaha, hingga rumah tangga untuk menurunkan konsumsi minyak.
Pertama, bekerja dari rumah jika memungkinkan. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi penggunaan minyak untuk perjalanan pulang-pergi, terutama bagi pekerjaan yang dapat dilakukan jarak jauh.
Kedua, mengurangi batas kecepatan di jalan raya setidaknya 10 km/jam. Menurut IEA, kecepatan yang lebih rendah dapat menekan penggunaan bahan bakar untuk mobil penumpang, van, dan truk.
Ketiga, mendorong penggunaan transportasi umum. Pergeseran dari mobil pribadi ke bus dan kereta api dinilai dapat dengan cepat menurunkan permintaan minyak.
Keempat, mengatur akses mobil pribadi ke jalan raya di kota-kota besar secara bergantian pada hari yang berbeda. Skema rotasi plat nomor disebut dapat mengurangi kemacetan dan penggunaan bahan bakar yang boros.
Kelima, meningkatkan penggunaan mobil bersama serta menerapkan praktik mengemudi yang efisien. Peningkatan tingkat hunian mobil dan kebiasaan berkendara yang lebih ramah lingkungan dinilai dapat menurunkan konsumsi bahan bakar dalam waktu cepat.
Keenam, menerapkan pengemudian yang efisien untuk kendaraan komersial jalan raya dan pengiriman barang. IEA menilai praktik pengemudian yang lebih baik, perawatan kendaraan, serta optimalisasi muatan dapat mengurangi penggunaan diesel.