Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan perekonomian global menghadapi ancaman besar akibat krisis energi yang dipicu perang di Timur Tengah. Ia menilai krisis kali ini berpotensi lebih parah dibandingkan krisis minyak pada 1973 dan 1979, serta krisis gas yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Dalam pidatonya di National Press Club, Canberra, pada Minggu (22/3/2026), Birol mengatakan krisis saat ini pada dasarnya merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas. Menurutnya, dampak krisis tersebut akan dirasakan luas dan tidak ada negara yang benar-benar kebal.
Birol menyebut penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi telah mengurangi pasokan minyak global sekitar 11 juta barel per hari. Angka itu disebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan total kekurangan pasokan pada krisis energi era 1970-an. Selain itu, pasokan gas alam cair (LNG) dilaporkan berkurang sekitar 140 miliar meter kubik, lebih besar dibandingkan defisit sekitar 75 miliar meter kubik yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina.
IEA juga mencatat setidaknya 40 fasilitas energi di sembilan negara mengalami kerusakan parah akibat konflik yang berlangsung. Birol menekankan kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global dan berharap situasi dapat segera diselesaikan.
Di tengah ketidakpastian pasokan, Birol mengatakan skala krisis dinilai belum sepenuhnya dipahami para pengambil keputusan. IEA kemudian mengusulkan sejumlah langkah penghematan energi, antara lain memperbanyak skema kerja dari rumah, menurunkan sementara batas kecepatan di jalan tol, serta mengurangi perjalanan udara.
Birol menambahkan, IEA berkonsultasi dengan berbagai negara terkait kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak strategis bila diperlukan. Namun, ia menilai langkah paling efektif untuk meredakan tekanan pasokan adalah membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global.
Sementara itu, ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (21/3/2026) mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump menyatakan pembangkit listrik Iran akan dihancurkan jika jalur itu tidak dibuka. Batas waktu ultimatum tersebut dijadwalkan berakhir pada Senin (23/3/2026) malam waktu AS.
Iran menanggapi ancaman itu dengan menyatakan akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz. Iran juga menyebut akan menyerang infrastruktur energi dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut. Di tengah eskalasi, harga minyak dilaporkan telah melonjak lebih dari 50 persen sejak perang dimulai, yang disebut diawali oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.