BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Naik, India Mulai Rasakan Tekanan Biaya dan Risiko Inflasi di Atas 5 Persen

Harga Minyak Dunia Naik, India Mulai Rasakan Tekanan Biaya dan Risiko Inflasi di Atas 5 Persen

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu dampak paling nyata dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Memasuki pekan ketiga, India mulai merasakan efek dari lonjakan harga energi tersebut.

India sangat bergantung pada impor energi. Sekitar 85–90 persen kebutuhan minyak mentah negara itu berasal dari luar negeri. Kondisi ini membuat kenaikan harga minyak global cepat mendorong peningkatan biaya di berbagai sektor, mulai dari transportasi dan manufaktur hingga harga barang dan jasa yang akhirnya ditanggung konsumen.

Sejumlah tanda tekanan disebut sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Distribusi gas memasak dilaporkan mengalami perlambatan. Sementara itu, pelaku usaha yang bergantung pada LPG dan LNG, seperti restoran dan industri kecil, mulai merasakan dampaknya.

Direktur PGPM sekaligus Profesor Ekonomi Great Lakes Gurgaon, Dr. VP Singh, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat memicu lonjakan inflasi dalam waktu dekat. Ia menyebut, jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, inflasi berpotensi melampaui 5 persen dalam beberapa kuartal ke depan.

Menurut Singh, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen dalam negeri tidak akan bisa ditahan lebih lama. Ia menilai, harga BBM di SPBU pada akhirnya seharusnya mencerminkan harga minyak mentah yang sebenarnya.

Dari sisi global, Singh melihat tekanan berpotensi meluas jika gangguan pasokan energi berlanjut. Ia menilai risiko perlambatan ekonomi dunia akan semakin besar, terutama karena banyak negara masih bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Meski demikian, Singh menilai India masih memiliki daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain. Ia menyebut India memiliki kinerja keuangan yang baik dan kemungkinan tetap berada dalam jalur pertumbuhan, dengan risiko resesi yang terbatas.

Saat ini, ekonomi global disebut belum memasuki fase resesi. Namun, sejumlah indikator yang kerap menjadi pemicu mulai terlihat, seperti kenaikan harga energi, ketidakpastian pasokan, serta tekanan biaya yang merambat dari pasar ke rumah tangga.