Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin (2/3/2026) setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran diikuti serangan balasan yang menyasar instalasi militer di Timur Tengah. Eskalasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan menekan pergerakan bursa saham di berbagai kawasan.
Data FactSet menunjukkan minyak mentah Brent, patokan internasional, diperdagangkan di level US$79,41 per barel pada Senin pagi. Angka tersebut naik 9% dibanding penutupan Jumat di US$72,87 per barel.
Kenaikan juga terjadi pada West Texas Intermediate (WTI). Berdasarkan data CME Group, WTI melonjak 8,6% ke US$72,79 per barel dari sekitar US$67 per barel pada penutupan Jumat.
Pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dari Iran dan wilayah Timur Tengah lainnya berpotensi melambat, bahkan terhenti. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memberi sinyal serangan akan berlanjut hingga tujuan militer AS tercapai.
Perhatian pasar energi turut tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melalui laut. Selat ini menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Situs pelacakan laut melaporkan penumpukan kapal tanker di kedua sisi selat karena kekhawatiran serangan serta kesulitan memperoleh asuransi perjalanan. Pada Minggu, dilaporkan ada dua kapal yang melintas di Selat Hormuz menjadi sasaran serangan.
Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, mengatakan perkembangan paling mendesak yang mempengaruhi pasar minyak adalah “penghentian efektif lalu lintas melalui Selat Hormuz” yang menghambat sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari mencapai pasar. Ia menambahkan, tanpa sinyal de-eskalasi yang cepat, pasar berpotensi melakukan penyesuaian harga minyak ke atas secara signifikan.
Kenaikan harga energi dinilai berisiko mendorong biaya bahan bakar konsumen serta harga kebutuhan pokok di tengah tekanan inflasi yang sudah ada. Sentimen tersebut tercermin pada pelemahan pasar saham global, terutama di Asia dan Eropa.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 1,3% pada Senin pagi. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 1,2%, sementara saham-saham unggulan di China turun tipis 0,1%. Di Timur Tengah, bursa saham Uni Emirat Arab dan Kuwait ditutup sementara dengan alasan keadaan luar biasa.
Tekanan juga terlihat di Eropa. EURO STOXX 50 turun 1,3%, DAX Jerman melemah 1,4%, dan FTSE Inggris turun 0,6%. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,8%.
Guncangan harga minyak turut mempengaruhi pasar valuta asing. Dolar AS menguat sebagai aset aman, sementara euro melemah 0,2% ke US$1,1787.
Di sisi pasokan, delapan negara OPEC+ mengumumkan rencana peningkatan produksi untuk meredam volatilitas. Kelompok ini akan menaikkan output 206.000 barel per hari pada April, melibatkan Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Iran dilaporkan mengekspor sekitar 1,6 juta barel per hari, dengan mayoritas dikirim ke China. Sejumlah analis menilai China kemungkinan perlu mencari sumber energi lain jika pasokan dari Iran terganggu, meski negara tersebut memiliki cadangan minyak strategis yang luas dan dapat meningkatkan impor dari Rusia.

