Jakarta — Harga emas dunia bergerak dinamis pada perdagangan terbaru, dipengaruhi kombinasi faktor teknikal dan fundamental global. Pada sesi perdagangan Amerika Utara Rabu, harga emas sempat menyentuh level tertinggi tiga hari di kisaran USD 5.091 sebelum berbalik tertekan dan turun lebih dari satu persen.
Penguatan dolar AS yang moderat serta kondisi pasar yang beragam mendorong pasangan XAU/USD terkoreksi dan diperdagangkan di area USD 4.901. Meski mengalami pelemahan, tekanan tersebut dinilai belum mengubah struktur tren utama emas yang masih berada dalam fase penguatan.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai secara teknikal pergerakan emas masih mencerminkan kecenderungan bullish. Menurut dia, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren naik pada XAU/USD tetap terjaga.
“Koreksi yang terjadi dipandang sebagai bagian dari volatilitas jangka pendek, bukan sebagai sinyal pembalikan tren secara menyeluruh. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, peluang penguatan lanjutan masih terbuka,” kata Andy dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.
Untuk perdagangan hari ini, Andy memproyeksikan bila tekanan bullish kembali mendominasi, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mendekati level resistance sekitar USD 5.142. Level tersebut disebut menjadi area teknikal penting untuk menguji kekuatan minat beli pelaku pasar.
Namun, apabila harga gagal melanjutkan kenaikan dan koreksi berlanjut, potensi penurunan terdekat diperkirakan mengarah ke area support USD 4.899. Andy menilai area ini krusial untuk menjaga struktur tren naik dalam jangka pendek.
Dari sisi fundamental, harga emas juga dipengaruhi meningkatnya permintaan aset safe haven. Pada sesi awal Asia Kamis, harga emas tercatat melonjak hingga sekitar USD 5.005, menunjukkan upaya pemulihan setelah periode volatilitas yang cukup intens.
Sentimen kehati-hatian pasar dipicu ketegangan geopolitik, setelah militer AS dilaporkan menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden itu memunculkan kekhawatiran eskalasi konflik antara AS dan Iran, meski kedua negara telah mengonfirmasi rencana perundingan di Oman.
Selain geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pergeseran kepemimpinan di Federal Reserve dan ekspektasi kebijakan yang lebih hawkish dinilai berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas.
Pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga Fed pada pertemuan Juni berada di kisaran 46 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Penguatan dolar AS turut menambah tekanan bagi emas, dengan Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik ke level 97,67.
Data ekonomi AS yang dirilis juga memberikan sinyal beragam. Laporan ADP mencatat pertambahan tenaga kerja sektor swasta yang lebih rendah dari perkiraan, sementara PMI Jasa AS menunjukkan ekspansi yang solid. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa volatilitas harga emas masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Andy menilai harga emas masih berpeluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan bullish. Ia menyarankan investor dan trader mencermati perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, serta pergerakan dolar AS sebagai penentu arah harga emas berikutnya.

