Harga emas dunia (XAU/USD) melemah pada Selasa, 2 Desember 2025, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di USD4.240. Pelemahan terjadi seiring langkah investor mengamankan keuntungan menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.
Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menilai penguatan dolar AS turut menekan pergerakan emas. Indeks dolar (DXY) bertahan di level 99,44, naik tipis 0,04 persen, sehingga mengurangi minat terhadap aset safe haven.
Tekanan berlanjut pada Rabu, 3 Desember 2025, ketika harga emas kembali turun mendekati USD4.210. Menurut Andy, penurunan ini dipicu aksi profit taking lanjutan di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk ADP Employment Change dan ISM Services PMI.
Ia menyebut koreksi harian emas sekitar 0,65 persen juga mencerminkan meningkatnya selera risiko di pasar global. Seiring optimisme pertumbuhan ekonomi, sebagian pelaku pasar disebut mulai beralih ke aset berisiko.
Meski tertekan dalam jangka pendek, Andy menilai ruang penurunan emas relatif terbatas. Pasar masih berspekulasi kuat mengenai peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan 9–10 Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga kini mencapai 89 persen, naik dari sekitar 71 persen pada pekan sebelumnya. Suku bunga yang lebih rendah umumnya mendukung emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.
Dari sisi teknikal, Andy menyatakan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average masih menunjukkan tren bullish yang cukup kuat. Menurutnya, meskipun terjadi koreksi, struktur harga tetap menjaga pola kenaikan yang dinilai sehat.
Ia juga menyoroti stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di sekitar 4,086 persen serta imbal hasil riil AS di 1,856 persen. Keduanya dinilai tidak menunjukkan lonjakan yang berpotensi menekan emas lebih dalam.
Untuk proyeksi pergerakan hari ini, Andy memaparkan dua skenario. Jika tekanan bullish berlanjut dan pasar merespons positif spekulasi penurunan suku bunga, emas berpeluang menguat menuju resistance 4.267. Area ini dinilai penting karena dapat membuka peluang kenaikan lanjutan bila berhasil ditembus.
Namun, bila emas melemah akibat sentimen risk-on atau rilis data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, harga berpotensi terkoreksi ke support terdekat di 4.184. Level tersebut disebut sebagai batas bawah yang perlu dijaga agar tren bullish jangka pendek tidak berubah menjadi bearish.
Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati kabar pertemuan utusan AS Steve Witkoff dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta kehadiran Jared Kushner dalam pembahasan rencana perdamaian Rusia–Ukraina. Andy menilai ketegangan geopolitik biasanya mendorong penguatan emas, sementara optimisme menuju kesepakatan damai dapat melemahkan permintaan terhadap aset safe haven.
Secara keseluruhan, Andy menilai emas masih berada dalam fase koreksi, tetapi peluang penguatan tetap terbuka, terutama jika pasar semakin yakin The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Dengan sentimen yang dipengaruhi data ekonomi, dinamika geopolitik, dan indikasi teknikal yang masih bullish, emas dinilai berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan naik pada perdagangan hari ini.

