Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Selasa. Penguatan ini didukung sinyal teknikal serta ekspektasi pasar terhadap kelanjutan penurunan suku bunga Amerika Serikat, meski pada sesi sebelumnya sempat muncul tekanan akibat aksi ambil untung.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures Indonesia, pergerakan emas masih berada dalam tren positif. Pada perdagangan Senin, 15 Desember, harga emas sempat menyentuh level tertinggi harian di sekitar USD4.350. Namun kenaikan tersebut tidak bertahan lama setelah sebagian pelaku pasar melakukan profit taking. Tekanan jual jangka pendek membuat emas menghapus sebagian penguatannya dan ditutup relatif stabil di area USD4.296, di tengah pelemahan dolar AS yang masih berlanjut.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai struktur tren emas tetap menunjukkan kecenderungan bullish. Ia menyebut kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengindikasikan dominasi pembeli masih terjaga. Selama harga bertahan di atas area support terdekat, peluang penguatan lanjutan dinilai masih terbuka.
“Berdasarkan kombinasi candlestick dan indikator Moving Average yang terbentuk saat ini, tren bullish pada XAU/USD masih menguat. Jika tekanan beli berlanjut, maka harga emas berpotensi naik hingga menguji area USD4.348,” ujar Andy dalam analisanya, Selasa, 16 Desember 2025.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi koreksi teknikal dalam jangka pendek. Jika harga gagal melanjutkan kenaikan dan kembali berada di bawah tekanan jual, penurunan berpeluang membawa XAU/USD ke area support terdekat di sekitar USD4.290. Koreksi ini dinilai masih wajar selama tidak mengubah struktur tren naik yang sedang berlangsung.
Pada perdagangan Selasa, 16 Desember, penguatan emas berlanjut terutama pada sesi Asia. XAU/USD tercatat naik hingga sekitar USD4.305 dan disebut menjadi level tertinggi sejak 21 Oktober. Pergerakan ini didorong spekulasi pasar terkait kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve.
“Pekan lalu, The Fed telah menerapkan pemangkasan suku bunga ketiga sepanjang tahun ini dan memberikan sinyal kebijakan yang lebih akomodatif ke depan,” kata Andy.
Dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah, biaya peluang memegang emas—yang tidak memberikan imbal hasil—cenderung menurun sehingga dapat mendukung permintaan logam mulia. Meski dalam Ringkasan Proyeksi Ekonomi (dot plot) The Fed memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026, pasar masih memperhitungkan peluang penurunan suku bunga yang lebih agresif.
Pelaku pasar juga menanti rilis data ekonomi penting AS pada Selasa sore, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP), serta data Penjualan Ritel dan PMI. Data ketenagakerjaan tersebut diharapkan memberi petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, Andy menilai optimisme terkait pembicaraan perdamaian Ukraina berpotensi menekan minat terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, ketidakpastian global dan dinamika kebijakan moneter dinilai masih membuat emas menarik sebagai instrumen lindung nilai.
“Dengan dukungan teknikal dan fundamental yang solid, kami memandang pergerakan emas pada hari ini cenderung stabil dengan peluang penguatan lanjutan, meski tetap dibayangi potensi koreksi jangka pendek,” ujarnya.

