Harga batu bara Newcastle di pasar berjangka untuk kontrak Maret 2026 melonjak 10,4% pada Selasa (3/3) sore ke level US$139 per ton. Kenaikan ini menandai posisi tertinggi sejak 2 Desember 2024 sekaligus menjadi penguatan harian terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir, setelah sehari sebelumnya juga naik 8,7% pada Senin (2/3).
Penguatan harga batu bara terjadi seiring lonjakan harga gas alam yang kerap menjadi substitusi batu bara di sektor pembangkit listrik. Di Eropa, benchmark Dutch TTF dilaporkan melesat lebih dari 25% dan sempat menyentuh kenaikan hampir 50% pada Senin (2/3). Sementara itu, benchmark LNG Asia S&P Global JKM naik hampir 39%.
Kenaikan harga gas alam dipicu kabar penghentian produksi LNG oleh QatarEnergy di fasilitas Ras Laffan dan Mesaieed, setelah kawasan tersebut dilaporkan diserang drone Iran. Ras Laffan disebut menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global, dan penghentian ini menjadi yang pertama sejak fasilitas tersebut beroperasi sekitar 30 tahun lalu.
Bloomberg melaporkan Taiwan—yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan LNG dari Qatar—menyatakan akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara jika gangguan produksi dari Qatar berlangsung lama dan mengganggu pasokan gas alam. Pada 2023, sekitar 24% bauran energi Taiwan berasal dari gas alam.
Di pasar saham, kenaikan harga batu bara menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten batu bara. Pada Selasa (3/3), saham Adaro Andalan Indonesia (AADI) ditutup menguat 6,8%, sementara Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) masing-masing naik 6,2% dan 6,4%.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga energi. Investor juga mewaspadai ketidakpastian regulasi domestik terkait rencana pemangkasan kuota produksi bagi sejumlah emiten, kenaikan tarif ekspor, serta peningkatan kewajiban porsi domestic market obligation (DMO).
Dalam jangka panjang, sentimen harga batu bara disebut masih cenderung negatif. International Energy Agency (IEA) pada Desember 2025 memperkirakan permintaan batu bara global akan turun dengan compound annual average growth rate (CAAGR) -0,6% pada periode 2025–2030, seiring transisi menuju energi terbarukan dan meningkatnya substitusi terhadap LNG.

