JAKARTA — Industri kelapa sawit masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun, pemerintah diminta memperkuat tata kelola berkelanjutan untuk meminimalkan berbagai risiko negatif yang dapat menyertai pengembangan sektor ini.
Guru Besar Kebijakan Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi menekankan bahwa pengelolaan sawit perlu dimulai sejak tahap pembukaan hutan hingga pengelolaan kebun setelahnya. Menurut dia, proses pembukaan lahan dan pengelolaan berikutnya menentukan sejauh mana manfaat dapat dioptimalkan dan risiko bisa ditekan.
“Faktor kunci dalam pembukaan hutan menjadi kebun sawit adalah bagaimana prosesnya dan setelah itu bagaimana cara mengelolanya sehingga manfaatnya dapat dioptimalkan, risiko yang menyertainya dapat diminimalkan,” kata Bayu dalam keterangan tertulis, Kamis (11/12/2025).
Bayu menyebut luas perkebunan sawit saat ini telah mencapai lebih dari 16 juta hektar dan menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 20 juta masyarakat. Industri ini juga menghasilkan sekitar 50 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun, yang menjadikan Indonesia sebagai eksportir sawit terbesar di dunia.
Selain kontribusi terhadap ekonomi nasional, subsektor sawit dinilai berperan dalam penurunan angka kemiskinan. Bayu menyampaikan pendapatan petani disebut meningkat tiga hingga lima kali lipat setelah beralih ke perkebunan sawit dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.
“Kebun sawit punya kelebihan dalam memberi pendapatan bagi perkebunan, mengentaskan kemiskinan, menyediakan produk yang dibutuhkan masyarakat, dan mengembangkan daerah,” ujar Bayu.
Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa pada 2024 produksi CPO dan kernel oil mencapai 52.762 ton, turun 3,8 persen dibandingkan 2023 yang sebesar 54.844 ton. Konsumsi CPO dan kernel oil pada Desember 2024 juga dilaporkan meningkat 2.030 ton dibandingkan November.
Adapun nilai ekspor sektor ini tercatat Rp 440 triliun pada 2024, turun 8,44 persen dari Rp 463 triliun pada 2023.
Sebelumnya, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyatakan Indonesia berkomitmen mengelola industri berbasis sumber daya alam sesuai Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab pengelolaan lingkungan.
“Kita akan terus menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab pengelolaan lingkungan, memastikan bahwa kemajuan kita tidak mengorbankan alam maupun generasi berikutnya,” kata Rachmat Pambudy pada Acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) 2025 di Bali, Kamis (13/11/2025).

