BERITA TERKINI
Gejolak pasar dan risiko energi global jika Selat Hormuz diblokade

Gejolak pasar dan risiko energi global jika Selat Hormuz diblokade

Konflik yang memanas di Timur Tengah memicu gejolak di pasar global, dengan volatilitas tajam terlihat pada perdagangan 3 Februari. Kekhawatiran utama investor tertuju pada potensi gangguan pasokan energi, terutama jika Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis bagi minyak dan gas—mengalami blokade.

Memasuki sesi perdagangan utama di New York, harga minyak mentah WTI naik sekitar 7% dan melampaui US$71 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent mempertahankan kenaikan lebih dari 7% setelah sempat menembus US$82 per barel, level tertinggi dalam 14 bulan. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan, mengingat Timur Tengah menyumbang hampir sepertiga produksi minyak dunia dan menjadi pemasok utama bagi kawasan Asia.

Tekanan juga terasa di pasar saham internasional. Bursa-bursa utama Eropa—Inggris, Prancis, dan Jerman—turun, dengan indeks di Jerman merosot paling tajam, lebih dari 1%. Sebelumnya, sejumlah pasar utama Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong ditutup melemah. Pasar di Timur Tengah pun mengalami volatilitas yang disebut sebagai yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah analis menilai serangan balasan Iran di kawasan Teluk telah menimbulkan gangguan besar terhadap aktivitas bisnis sejak pandemi Covid-19. Dampaknya antara lain penutupan bandara, penangguhan operasi pelabuhan, serta guncangan di pasar keuangan. Di awal pekan saat konflik berlangsung, indeks saham Arab Saudi sempat jatuh sekitar 4% segera setelah pembukaan. Bursa saham di Uni Emirat Arab ditutup selama dua hari, sebuah keputusan yang jarang terjadi, sementara Kuwait menangguhkan perdagangan dan belum mengumumkan rincian lanjutan.

Di tengah situasi ini, Selat Hormuz menjadi titik fokus risiko bagi pasar energi global. Deklarasi blokade oleh Iran dipandang berpotensi berdampak besar, termasuk risiko terganggunya aliran energi dunia.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur air terpenting di dunia. Sekitar 20% konsumsi minyak global melewati selat ini setiap hari, rata-rata sekitar 20–21 juta barel. Jalur tersebut merupakan koridor ekspor utama bagi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran. Jika selat tertutup, aliran minyak dari negara-negara itu berisiko tertahan di Teluk Persia.

Analis King’s College London, Marina Miron, menilai pemblokiran Selat Hormuz akan meningkatkan biaya asuransi dan membuat lalu lintas maritim cenderung menunggu perkembangan situasi. Ia juga menekankan bahwa Iran sendiri bergantung pada ekspor minyak, sehingga blokade dinilai tidak memberi banyak manfaat bagi Iran.

Selain minyak, Selat Hormuz juga merupakan jalur pengiriman penting bagi gas alam cair (LNG). Pemblokiran selat berpotensi menimbulkan kekurangan energi di negara-negara tujuan utama serta mengganggu rantai pasok global. Kapal kargo yang melintas di zona konflik juga berisiko menghadapi premi asuransi yang jauh lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya transportasi dan dapat dibebankan kepada konsumen, termasuk melalui kenaikan harga bensin.

Asia dinilai menjadi kawasan yang paling rentan. Sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia, dan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, India, serta Korea Selatan disebut bergantung pada kawasan tersebut untuk 70–80% impor minyak mereka. Untuk LNG, lebih dari 80% produksi LNG Qatar tahun lalu diekspor ke Asia.

Jepang menjadi salah satu contoh negara yang berpotensi terdampak besar. Meski memiliki cadangan minyak nasional yang disebut cukup untuk 254 hari (gabungan cadangan negara dan swasta), sekitar 90% impor minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah. Dalam jangka pendek, cadangan dapat membantu meredam dampak, tetapi blokade berkepanjangan dinilai dapat menimbulkan ancaman ekonomi serius.

Peneliti senior Mitsubishi UFJ Research and Consulting, Akutada Tomoyuki, memperkirakan harga produk minyak seperti bensin, solar, dan minyak tanah akan naik, yang kemudian berimbas pada tagihan listrik dan gas. Ia juga menilai biaya di sektor pertanian dan perikanan dapat meningkat, sehingga berpotensi memengaruhi harga makanan segar.

Dalam skenario terburuk, jika seluruh pasokan bahan bakar fosil impor dari Timur Tengah terputus, PDB Jepang diperkirakan dapat turun sekitar 3%. Akutada juga memperkirakan kenaikan harga minyak mentah sebesar US$10 per barel dapat meningkatkan tagihan impor minyak mentah Jepang sekitar US$8,28 miliar, sementara kenaikan US$20 per barel berisiko meniadakan langkah-langkah yang sedang ditempuh untuk menahan kenaikan harga.

Jika impor minyak mentah berhenti, aktivitas produksi seperti penyulingan akan terganggu dan dampaknya menyebar ke sektor-sektor pengguna minyak seperti transportasi dan jasa. Dampak lanjutan juga dapat menekan sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Jepang.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dilaporkan tengah mengumpulkan informasi dari perusahaan swasta mengenai status operasional kapal yang melintasi Selat Hormuz serta potensi dampaknya terhadap pasokan minyak mentah dan gas alam. Berdasarkan informasi tersebut, pemerintah akan menyusun kebijakan respons pada pekan berikutnya. Di saat yang sama, lonjakan harga bahan bakar dinilai berpotensi mengganggu upaya pemerintah Jepang dalam menekan inflasi dan kenaikan harga.