BERITA TERKINI
FPCI: Transisi Energi Kini Menjadi Arena Persaingan Ekonomi Global

FPCI: Transisi Energi Kini Menjadi Arena Persaingan Ekonomi Global

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai transisi energi saat ini telah berubah menjadi ajang persaingan ekonomi global. Menurutnya, negara yang bergerak cepat mengembangkan industri energi bersih akan berada di posisi terdepan pada masa mendatang.

Pernyataan itu disampaikan Dino dalam arahan media bertajuk “Rekomendasi Kebijakan, Regulasi, dan Implementasi Program 100 GW PLTS untuk Ketahanan dan Kemandirian Energi serta Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” yang diselenggarakan FPCI di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Dino menjelaskan, setelah Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan komitmen untuk mencapai energi terbarukan 100 persen dalam 10 tahun pada KTT G20 di Brazil, Unit Iklim FPCI berinisiatif mengumpulkan para ahli guna mencari cara membantu pemerintah mewujudkan target tersebut.

Ia menilai target pembangunan listrik 100 gigawatt (GW) dalam 10 tahun bersifat realistis, asalkan dijalankan dengan keseriusan dan program yang dapat diimplementasikan dengan baik. “Listrik 100 GW dalam 10 tahun itu menurut kami adalah suatu hal yang sangat realistis dan bisa dicapai asal kita serius dan mempunyai program yang juga terlaksana dengan baik,” ujar Dino, dikutip dari Antara, Senin (23/2/2026).

Dino menekankan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW tidak semata proyek energi, melainkan juga proyek ekonomi, proyek industri, dan proyek masa depan. Ia menyebut ada alasan penting perlunya percepatan pengembangan PLTS, yakni untuk ketahanan energi, industrialisasi energi bersih, serta mendorong keadilan pembangunan dan produktivitas desa.

Untuk ketahanan energi, Dino menyatakan energi surya dapat menjadi sumber energi domestik yang bersih dan stabil dalam jangka panjang karena tidak terpengaruh fluktuasi harga global.

Sementara dari sisi industrialisasi energi bersih, ia menilai pemerintah dapat membangun industri melalui penguatan manufaktur, rantai pasok, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM). Langkah ini dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok global.

Adapun terkait pembangunan dan produktivitas desa, Dino mengatakan pembangunan PLTS yang terdistribusi ke desa-desa di seluruh Indonesia dapat menjadi program elektrifikasi energi terbarukan terbesar di Asia Tenggara. Ia menegaskan, pemanfaatan listrik tidak hanya untuk menyalakan lampu, melainkan juga untuk mendorong kegiatan ekonomi.

“Ini bukan hanya masalah listrik yang menyala, ini soal productive use of energy. Listrik untuk UMKM, cold storage, pertanian, pengelolaan hasil, dan ekonomi desa yang lebih produktif,” kata Dino.