BERITA TERKINI
Forum Bisnis 2026: Pelaku Usaha Vietnam Diminta Naik Kelas ke Rantai Nilai Global

Forum Bisnis 2026: Pelaku Usaha Vietnam Diminta Naik Kelas ke Rantai Nilai Global

Sejumlah ahli menilai bisnis Vietnam perlu meningkatkan posisi dalam rantai nilai global agar dapat tumbuh lebih kuat dan membentuk perusahaan berskala besar di pasar internasional. Penilaian itu mengemuka dalam Forum Bisnis 2026 bertema “Bisnis Vietnam di Peta Ekonomi Global: Inovasi untuk Terobosan” yang digelar pada 24 Maret di Kota Ho Chi Minh.

Dalam forum tersebut, industri makanan disebut sebagai salah satu sektor yang memiliki banyak keunggulan di Vietnam, namun belum melahirkan perusahaan besar yang mampu bersaing di tingkat global. Ekonom Dr. Dinh The Hien menyampaikan bahwa pasar pangan global bernilai sekitar 10 triliun dolar AS per tahun, dengan banyak perusahaan mencatat pendapatan dari puluhan hingga ratusan miliar dolar. Menurutnya, permintaan sektor pangan cenderung stabil dan cocok bagi negara dengan keunggulan pertanian seperti Vietnam.

Meski demikian, Dr. Hien menilai Vietnam masih tertinggal dibanding Thailand, negara yang memiliki kemiripan dalam pertanian dan ekspor makanan. Ia menyebut bisnis di Thailand dapat meraih pendapatan dari beberapa miliar hingga puluhan miliar dolar AS, sementara bisnis Vietnam umumnya berada pada kisaran beberapa ratus juta hingga beberapa miliar dolar AS.

Menurut Dr. Hien, kesenjangan itu tidak hanya berkaitan dengan skala, tetapi juga menunjukkan perbedaan posisi dalam rantai nilai global. Ia menjelaskan, banyak bisnis Vietnam masih berfokus pada tahapan bernilai tambah rendah seperti budidaya, pengadaan, pengolahan awal, pengolahan, dan ekspor. Sementara itu, komponen bernilai tambah tertinggi berada pada pembangunan merek, penguasaan sistem distribusi, dan akses langsung ke konsumen.

Dalam rantai pasokan makanan global, Dr. Hien menyebut tahap bahan baku dan pengolahan kerap menghasilkan nilai tambah rendah, sedangkan sebagian besar keuntungan terkonsentrasi pada branding dan distribusi, yang berpotensi mencapai 60–70% dari total nilai. Kondisi ini membuat banyak bisnis Vietnam, meskipun memiliki omzet ekspor besar, tetap menghadapi margin keuntungan yang rendah dan kesulitan untuk berkembang. Sebaliknya, perusahaan di kawasan dapat mencatat pendapatan miliaran dolar AS dengan mengendalikan distribusi dan membangun merek di pasar internasional.

Dari sisi ekonomi makro, Wakil Presiden Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI) Vo Tan Thanh menilai 2026 menjadi tahun penting yang dapat menciptakan momentum bagi fase pembangunan baru. Ia menyebut setelah hampir 40 tahun reformasi, Vietnam membukukan PDB sekitar 514 miliar dolar AS pada 2025, dengan total omzet impor dan ekspor sekitar 930 miliar dolar AS. Capaian itu menempatkan Vietnam di antara 20 ekonomi dengan volume perdagangan terbesar di dunia, sekaligus masuk kelompok negara dengan tingkat keterbukaan tinggi dan integrasi mendalam melalui perjanjian perdagangan bebas generasi baru.

Namun, di tengah restrukturisasi rantai pasokan global serta tren transformasi digital, kecerdasan buatan, dan pembangunan berkelanjutan yang kian mendominasi persaingan, Thanh menilai bisnis Vietnam tidak bisa terus mengandalkan model pengolahan dan ekspor bernilai rendah. Ia mendorong pergeseran ke model pertumbuhan berbasis teknologi, inovasi, pembangunan merek, dan keberlanjutan. Menurutnya, tanpa meningkatkan posisi dalam rantai nilai, nilai yang tertahan di perekonomian tetap rendah meski ekspor besar, sehingga sulit membentuk perusahaan berskala global.

Selain tantangan rantai nilai, pelaku usaha juga menghadapi tekanan biaya, modal, teknologi, dan logistik yang memengaruhi daya saing. Thanh menyebut gejolak ekonomi global, kenaikan biaya logistik, risiko pasar, serta ketidakstabilan geopolitik memberi tekanan besar pada aktivitas ekspor. Banyak bisnis, termasuk yang memiliki pesanan, mengalami penurunan keuntungan akibat meningkatnya biaya transportasi, bahan baku, dan keuangan.

Gambaran serupa disampaikan Presiden Asosiasi Makanan dan Minuman Kota Ho Chi Minh, Ly Kim Chi. Ia mengatakan banyak bisnis berada dalam kondisi “berproduksi sambil khawatir” karena pesanan ekspor sudah ditandatangani, tetapi lonjakan biaya transportasi memangkas efisiensi. Untuk produk seperti mi, beras, bihun, dan mie beras yang diekspor melalui jalur Timur Tengah, ia menyebut bisnis hampir sepenuhnya menanggung biaya yang dibebankan perusahaan pengiriman, sementara mitra pengimpor hanya menanggung sebagian kecil.

Chi menambahkan, bisnis yang sudah terikat kontrak tetap harus memenuhi kesepakatan dan tidak dapat berhenti, sehingga tekanan biaya dan risiko pasar semakin berat, terutama bagi usaha kecil dan menengah yang memiliki ketahanan risiko terbatas. Dalam situasi ini, ia menyebut sejumlah langkah yang ditempuh pelaku usaha meliputi negosiasi ulang ketentuan pengiriman, diversifikasi pasar ekspor, optimalisasi biaya produksi, serta peningkatan pengolahan mendalam untuk menambah nilai produk.

Hambatan lain datang dari akses modal dan teknologi, terutama bagi bisnis milik perempuan. Wakil Presiden Asosiasi Pengusaha Perempuan Kota Ho Chi Minh, Nguyen Huong Quynh, mengatakan tingkat akses modal bagi kelompok ini masih lebih rendah dibanding bisnis yang dijalankan laki-laki, dan perusahaan rintisan perempuan juga menghadapi lebih banyak kesulitan dalam menghimpun pendanaan.

Quynh juga menyoroti kesenjangan teknologi dan transformasi digital yang melebar karena banyak usaha kecil, terutama yang dimiliki perempuan, lambat mengadopsi teknologi baru seperti e-commerce dan manajemen data. Tanpa kebijakan dukungan yang memadai, ia menilai kesenjangan tersebut dapat terus melebar dan berpengaruh pada daya saing jangka panjang.

Merespons berbagai tantangan itu, para ahli mendorong adanya mekanisme dukungan yang lebih terfokus bagi usaha kecil dan menengah, bisnis inovatif, serta bisnis milik perempuan, khususnya terkait akses modal, kredit jangka panjang, transformasi digital, dan promosi perdagangan internasional.

Dalam jangka panjang, para pembicara menekankan bahwa peningkatan nilai industri makanan dan pembentukan perusahaan berskala besar tidak cukup hanya lewat peningkatan kapasitas produksi. Bisnis Vietnam dinilai perlu membangun merek, menguasai sistem distribusi, dan terlibat lebih dalam dalam rantai nilai global, sembari mengatasi hambatan modal, teknologi, logistik, dan pasar untuk memperkuat posisi di peta ekonomi global.