BERITA TERKINI
FLOQ Targetkan 3 Juta Pengguna pada 2026, Perkuat Kolaborasi dengan Bank dan Perusahaan Pembayaran

FLOQ Targetkan 3 Juta Pengguna pada 2026, Perkuat Kolaborasi dengan Bank dan Perusahaan Pembayaran

JAKARTA — Platform perdagangan aset kripto FLOQ menargetkan jumlah pengguna mencapai 3 juta pada 2026. Target ini naik dari sekitar 1,8 juta pengguna pada awal 2026, setelah sebelumnya berada di 1 juta pengguna pada Agustus 2025.

CEO sekaligus Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pertumbuhan tersebut akan dikejar melalui pendekatan kolaboratif dengan ekosistem jasa keuangan, terutama perbankan dan perusahaan pembayaran. Ia menilai integrasi dapat dilakukan melalui skema seperti co-branding dan kemitraan.

Menurut Yudhono, strategi ini dinilai lebih efektif untuk menjangkau segmen pengguna yang lebih matang secara finansial, yang umumnya tidak tertarik membeli aset kripto melalui media sosial atau promosi key opinion leader (KOL). Ia menyebut, segmen ini cenderung sudah menjadi nasabah bank atau pengguna platform pembayaran tertentu, sehingga kemitraan dapat meningkatkan kepercayaan untuk mencoba layanan.

Ia menegaskan FLOQ menargetkan perluasan adopsi kripto ke pengguna baru di luar ekosistem, bukan sekadar memindahkan pengguna dari platform lain. Karena itu, perusahaan mengedepankan kerja sama lintas ekosistem, termasuk pemasaran bersama dan integrasi layanan.

Dari sisi profil pengguna, Yudhono menyebut basis pengguna FLOQ cukup beragam dan sebagian merupakan pengguna baru aset kripto. Pengguna didominasi usia muda, dengan mayoritas berusia 17–25 tahun. FLOQ juga mendorong kemudahan transaksi melalui kebijakan bebas biaya transaksi 100% untuk trading, serta memungkinkan investasi kripto dimulai dari Rp 1.000.

Terkait kebijakan bebas biaya transaksi, Yudhono mengatakan langkah tersebut diambil untuk merespons keluhan mahalnya biaya transaksi di bursa kripto lokal akibat pajak. Ia menilai beban pajak sekitar 0,21% cukup signifikan bagi trader. Saat ini, menurutnya, FLOQ masih menggratiskan biaya tersebut untuk pengguna dengan menyerap pajaknya, meski durasi kebijakan itu belum ditentukan.

Yudhono juga menilai penerapan pajak kripto sejak 2022 berdampak pada penurunan volume perdagangan domestik, meskipun jumlah pengguna kripto di Indonesia pada akhir 2025 telah mencapai 20,19 juta orang. Ia menyebut volume transaksi tertinggi terjadi pada 2021 sebesar Rp 895,4 triliun, lalu turun menjadi Rp 296,66 triliun pada 2022. Menurutnya, pajak yang tetap dikenakan meski trader mengalami untung-rugi menjadi pertimbangan besar bagi pelaku pasar.

FLOQ sendiri resmi diluncurkan pada 30 Mei 2025 setelah melakukan rebranding. PT Kripto Maksima Koin (KMK), bagian dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), mengubah nama menjadi FLOQ. KMK telah memperoleh sertifikat registrasi dari Bappebti tertanggal 28 Januari 2022 sebagai calon pedagang fisik aset kripto.

Ke depan, FLOQ juga melihat peluang dari tren global tokenisasi aset riil (real world assets/RWA), seperti emas dan saham luar negeri, yang ditokenisasi agar dapat diakses lebih luas. Yudhono menyebut industri keuangan global bergerak ke arah kolaborasi antara kripto, perbankan, pembayaran, dan manajemen investasi, dan model tersebut dinilai dapat ditunjukkan kepada mitra potensial serta regulator untuk menegaskan bahwa bisnis kripto dapat berjalan sesuai aturan.

Ia menambahkan, tokenisasi menjadi salah satu fokus pengembangan FLOQ, baik melalui penambahan produk yang diperdagangkan maupun kerja sama strategis. Dari sisi produk, FLOQ berencana menambah jumlah token yang diperdagangkan. Dalam delapan bulan sejak diluncurkan, FLOQ telah mencapai 100 listing aset kripto dan menargetkan 150 token terdaftar pada tahun ini.

Perusahaan juga berencana meningkatkan pengalaman pengguna melalui fitur baru, termasuk limit order, untuk membantu pengguna baru dalam bertransaksi. Limit order merupakan metode pemesanan yang memungkinkan pengguna menentukan harga beli atau jual yang diinginkan, dan transaksi hanya akan tereksekusi ketika harga pasar mencapai level tersebut.

Sementara untuk produk derivatif, FLOQ menyatakan masih menunggu perkembangan bursa kripto yang menaungi instrumen tersebut. FLOQ merupakan salah satu pemegang saham PT Fortuna Integritas Mandiri yang menaungi bursa kripto International Crypto Exchange (ICEx). Yudhono menyebut realisasi derivatif bergantung pada kesiapan bursa, dengan harapan dapat berjalan pada akhir tahun ini atau tahun depan.

Di sisi kondisi pasar, Yudhono menilai penurunan harga Bitcoin dalam fase bearish kerap dimanfaatkan investor jangka panjang untuk akumulasi, bukan oleh trader jangka pendek. Ia menilai prospek jangka panjang Bitcoin dan industri kripto masih menjanjikan, antara lain karena kapitalisasi pasar kripto global disebut baru sekitar US$ 2–3 triliun atau sekitar 2% dari total kapitalisasi pasar ekuitas global.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga Bitcoin tetap sulit diprediksi. Ia menyebut terdapat dua pandangan yang berkembang di pasar, yakni teori siklus empat tahunan pasca halving dan teori super cycle yang dipicu masuknya investor institusional. Ia menyarankan strategi dollar cost averaging, menggunakan dana yang siap risiko, dan tidak melakukan pembelian secara sekaligus.

Dalam periode terbaru, Bitcoin sempat berada di kisaran US$ 60.000-an, turun hampir 50% dari rekor tertinggi US$ 126.000 pada 6 Oktober 2025. Berdasarkan data histori Monthly Returns dari Coinglass, kinerja bulanan Bitcoin mencatat penurunan beruntun sejak Oktober 2025 yang ditutup -3,69%, disusul November -17,67% dan Desember -2,97%. Tren negatif berlanjut pada Januari 2026 sebesar -10,17%, sementara Februari 2026 tercatat turun -18,54% hingga saat ini, menandai tren penurunan lima bulan berturut-turut.