BERITA TERKINI
Financial Planner Ingatkan Risiko Tinggi Investasi di Fintech Lending Meski Imbal Hasil Capai 18% per Tahun

Financial Planner Ingatkan Risiko Tinggi Investasi di Fintech Lending Meski Imbal Hasil Capai 18% per Tahun

Imbal hasil hingga 18% per tahun membuat investasi di fintech lending menarik bagi sebagian investor. Namun, di balik potensi keuntungan tersebut, terdapat risiko yang juga besar—mulai dari gagal bayar, keterlambatan pembayaran, hingga ketidakpastian regulasi dan kualitas manajemen risiko di masing-masing platform.

Financial Planner sekaligus pendiri Finansialku, Melvin Mumpuni, menekankan investor perlu memahami risiko terbesar saat menempatkan dana di fintech lending. Risiko itu antara lain kehilangan seluruh modal atau mengalami keterlambatan pembayaran. Menurutnya, imbal hasil tinggi tidak akan berarti jika investor tidak menerapkan manajemen risiko dengan baik.

Risiko yang perlu diwaspadai

Dalam penempatan dana di fintech lending, terdapat beberapa risiko yang dapat muncul dan kerap luput dari perhatian investor.

Pertama, risiko kehilangan modal. Investor berpotensi kehilangan 100% modal apabila peminjam gagal bayar dan platform tidak memiliki mekanisme cadangan gagal bayar yang memadai.

Kedua, keterlambatan pembayaran. Selain gagal bayar, keterlambatan pembayaran tergolong risiko yang umum, baik karena masalah likuiditas peminjam maupun kendala dari pihak platform.

Ketiga, kurangnya transparansi. Sejumlah platform dinilai belum sepenuhnya terbuka terkait kualitas pinjaman atau data peminjam, sehingga investor kesulitan menakar tingkat risiko yang sebenarnya.

Keempat, risiko regulasi. Regulasi fintech lending di Indonesia masih berkembang. Jika muncul aturan baru yang lebih ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagian platform dapat terdampak, termasuk investor yang telah menempatkan dana.

Langkah manajemen risiko bagi investor

Untuk mengurangi potensi kerugian, investor dapat menerapkan beberapa langkah perlindungan sebelum dan saat berinvestasi di fintech lending.

Pertama, memahami mekanisme manajemen risiko platform. Investor disarankan menelusuri apakah platform menyediakan sistem cadangan gagal bayar, asuransi kredit, atau skema tanggung renteng sebagai perlindungan ketika terjadi kredit macet.

Kedua, melakukan diversifikasi. Investor dianjurkan tidak menempatkan seluruh dana pada satu platform atau satu jenis pinjaman, melainkan menyebarkannya ke beberapa platform dan jenis pinjaman untuk membagi risiko.

Ketiga, memilih platform yang terdaftar dan diawasi OJK. Aspek ini dinilai penting karena platform yang berada dalam pengawasan OJK umumnya memiliki standar keamanan dan transparansi yang lebih terukur.

Keempat, memeriksa reputasi dan riwayat platform. Investor dapat menilai rekam jejak platform, termasuk kelancaran pembayaran dan apakah pernah mengalami masalah, sebelum memutuskan penempatan dana.

Fitur keamanan yang perlu diperhatikan

Sejumlah fitur keamanan disebut dapat membantu melindungi investor, seperti asuransi kredit, cadangan gagal bayar, tanggung renteng, audit keuangan berkala, serta verifikasi identitas peminjam. Keberadaan fitur-fitur tersebut dinilai bukan sekadar formalitas, melainkan berperan dalam menekan risiko kerugian.

Imbal hasil tinggi tidak selalu sejalan dengan keamanan

Perbedaan imbal hasil dan fitur keamanan antarplatform dapat memengaruhi tingkat risiko. Dalam perbandingan yang dicantumkan, ada platform yang menawarkan imbal hasil 16%–20% namun tanpa fitur keamanan, sehingga dikategorikan berisiko tinggi. Sementara platform dengan fitur seperti asuransi, cadangan gagal bayar, atau audit berkala dinilai dapat memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan perlindungan risiko.

Pentingnya edukasi sebelum berinvestasi

Edukasi menjadi faktor penting sebelum masuk ke fintech lending. Investor yang memahami risiko dan mekanisme platform dinilai lebih siap mengambil keputusan dan tidak semata tergiur imbal hasil. Materi edukasi dapat diperoleh melalui artikel, webinar, atau konsultasi dengan perencana keuangan.

Kesimpulan

Fintech lending dapat menjadi alternatif investasi dengan imbal hasil menarik, tetapi tetap memiliki risiko yang signifikan. Investor disarankan memahami potensi kehilangan modal, memperhatikan transparansi platform, mempertimbangkan risiko regulasi, serta menerapkan langkah manajemen risiko seperti diversifikasi dan pemilihan platform yang terdaftar di OJK.