BERITA TERKINI
Ferry Latuhihin: Tekanan Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar Lebih Dipicu Faktor Domestik

Ferry Latuhihin: Tekanan Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar Lebih Dipicu Faktor Domestik

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi karena pelemahan mata uang kerap dipandang sebagai sinyal awal ketidakstabilan ekonomi yang lebih luas.

Pakar ekonomi dan analis pasar modal, Ferry Latuhihin, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini tidak semata-mata dipengaruhi faktor global. Menurut dia, persoalan fundamental di dalam negeri lebih dominan membebani pergerakan rupiah.

Dalam perbincangan di Podcast Intrigue bersama Profesor Rhenald Kasali di Breeze Cafe, Rumah Perubahan, Ferry menyoroti perubahan outlook atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s sebagai salah satu pemicu utama. Meski belum terjadi penurunan peringkat, ia menilai perubahan outlook telah dibaca pasar sebagai sinyal risiko yang serius.

Ferry menjelaskan, investor mengkhawatirkan kemungkinan turunnya status Indonesia dari kategori investment grade apabila pemerintah tidak merespons dengan kebijakan fiskal yang dinilai kredibel. “Outlook negatif itu peringatan. Jika tidak ada respons yang meyakinkan, pasar akan mengantisipasi kemungkinan penurunan rating. Itu yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat,” ujarnya.

Ia juga menilai pasar melihat kondisi fiskal Indonesia sedang menghadapi tekanan. Penerimaan pajak disebut mengalami penurunan, sementara belanja negara tetap tinggi. Ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran dinilai berpotensi membuat defisit anggaran melebar, yang pada akhirnya ditutup melalui penambahan utang.

Menurut Ferry, strategi pembiayaan defisit dengan utang dapat memperburuk persepsi investor di tengah meningkatnya rasio pembayaran utang terhadap penerimaan negara. Ketika beban pembayaran bunga dan cicilan semakin besar, ruang fiskal menjadi semakin sempit dan risiko fiskal meningkat. “Pasar melihat apakah pemerintah melakukan koreksi terhadap defisit. Kalau yang terlihat justru penambahan utang, maka kepercayaan bisa turun,” katanya.

Dalam situasi ekonomi yang melambat, Ferry menilai langkah yang lebih rasional adalah pengendalian belanja atau rasionalisasi pengeluaran negara, terutama pada pos-pos yang dinilai kurang produktif. Tanpa langkah konkret untuk memperbaiki struktur fiskal, ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan berlanjut.

Selain faktor fiskal, Ferry menyoroti volatilitas nilai tukar yang dinilai semakin cepat dan tidak stabil. Ia menyebut intervensi Bank Indonesia (BI) bersifat sementara dan belum mampu mengembalikan kepercayaan secara menyeluruh, karena kebijakan moneter memiliki keterbatasan jika tidak dibarengi pembenahan fiskal. “Masalah utamanya bukan pada moneter, melainkan pada fundamental ekonomi dan tata kelola fiskal,” tegasnya.

Ferry juga membandingkan pergerakan rupiah dengan mata uang negara-negara ASEAN lain. Ketika sejumlah mata uang di kawasan disebut justru menguat terhadap dolar AS, rupiah mengalami pelemahan. Menurut dia, kondisi itu mengindikasikan tekanan lebih banyak berasal dari faktor domestik. “Kalau kondisinya begitu berarti boroknya kan di kita. Bukan karena faktor ekonomi global. Buktinya di negara lain, rata-rata mata uangnya menguat terhadap dolar,” ujarnya.

Ia menambahkan, penurunan kepercayaan pasar turut dipengaruhi persepsi terhadap konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi, sehingga investor asing disebut semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di Indonesia.

Ferry mengingatkan, apabila lembaga pemeringkat lain mengikuti langkah Moody’s dan benar-benar menurunkan peringkat utang Indonesia, tekanan terhadap rupiah berisiko semakin tajam dan dapat menembus level psikologis baru. Karena itu, ia mendorong pemerintah segera memberikan respons kebijakan yang jelas, terukur, dan kredibel untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Menurutnya, stabilitas nilai tukar sangat bergantung pada keyakinan investor terhadap kemampuan negara menjaga disiplin fiskal dan kepastian kebijakan. “Kepercayaan adalah kunci. Jika kepercayaan pasar kembali, tekanan terhadap rupiah bisa mereda. Tetapi tanpa langkah korektif yang tegas, risiko pelemahan akan tetap ada,” pungkasnya.