BERITA TERKINI
Fashion Lebih dari Tren: Identitas, Budaya, Ekonomi, hingga Pengaruh Psikologis

Fashion Lebih dari Tren: Identitas, Budaya, Ekonomi, hingga Pengaruh Psikologis

Fashion kerap dipahami sebatas urusan pakaian, gaya, atau tren yang berganti dari waktu ke waktu. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, fashion memiliki peran yang lebih luas: menjadi simbol identitas, cerminan budaya, penggerak ekonomi, sekaligus memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Peran yang berlapis ini ikut menjelaskan mengapa fashion berkembang menjadi salah satu industri terbesar di dunia dan hadir langsung dalam aktivitas masyarakat, mulai dari pilihan pakaian harian hingga kebutuhan profesional.

Fashion sebagai identitas dan ekspresi diri

Pakaian yang dipilih dan dikenakan setiap hari kerap mencerminkan identitas pemakainya. Gaya berpakaian dapat menunjukkan karakter, suasana hati, profesi, hingga nilai-nilai yang dianggap penting. Dalam banyak situasi, busana juga menjadi bentuk komunikasi non-verbal—cara mengekspresikan diri tanpa harus mengucapkan kata-kata.

American Psychological Association (APA) menyebut tampilan visual dan gaya berpakaian dapat meningkatkan persepsi serta rasa percaya diri. Karena itu, banyak orang merasa lebih siap menjalani aktivitas ketika mengenakan pakaian yang dianggap tepat untuk situasi tertentu.

Di sisi lain, cara berpakaian juga sering menjadi dasar penilaian awal terhadap identitas seseorang. Pakaian formal dan seragam, misalnya, kerap diasosiasikan dengan profesi tertentu seperti guru, termasuk dari model, motif batik, maupun pilihan warna yang dikenakan.

Cerminan budaya dan perubahan zaman

Fashion juga berfungsi sebagai cerminan budaya sekaligus penanda perubahan zaman. Setiap daerah memiliki gaya, motif, dan filosofi berbeda dalam pakaian tradisionalnya. Di Indonesia, keragaman budaya turut melahirkan beragam busana adat yang merepresentasikan identitas masing-masing wilayah.

Salah satu contoh yang diakui secara internasional adalah batik, yang tercatat sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO.

Selain merekam budaya, fashion juga kerap mencerminkan dinamika era. Perubahan gaya dari dekade ke dekade—mulai dari tren penuh warna pada 1970-an, nuansa minimalis pada 1990-an, hingga kecenderungan estetika modern saat ini—menunjukkan bagaimana busana bergerak seiring selera dan konteks sosial. Victoria and Albert Museum di London bahkan menyebut fashion sebagai dokumen visual sejarah yang memperlihatkan perkembangan sosial, politik, dan teknologi dalam masyarakat.

Industri bernilai besar dan penggerak lapangan kerja

Di balik sisi kultural dan personal, fashion juga merupakan industri bernilai besar. Laporan McKinsey Global Fashion Index 2024 mencatat industri fashion meraih pendapatan global lebih dari 1,7 triliun dolar AS. Industri ini turut menciptakan jutaan lapangan pekerjaan, mencakup profesi seperti desainer, penjahit, model, fotografer, hingga pekerja pabrik.

Di Indonesia, data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan fashion termasuk salah satu subsektor ekonomi kreatif terbesar dan terus berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Pengaruh terhadap psikologis dan cara kita merasa

Fashion juga berkaitan dengan cara seseorang merasakan dan menjalani aktivitas. Pakaian dapat memengaruhi performa melalui fenomena yang dikenal sebagai enclothed cognition. Dalam konteks ini, mengenakan pakaian rapi dapat membantu meningkatkan fokus, sementara pakaian olahraga dapat memunculkan semangat dan energi saat melakukan aktivitas tertentu.

Dengan berbagai peran tersebut, fashion tidak hanya hadir sebagai tren musiman. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—mewakili identitas, merekam budaya, mendorong ekonomi, serta memengaruhi psikologis pemakainya.