BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Picu Kekhawatiran, Rupiah Berpotensi Melemah hingga Rp20.000 per Dolar AS

Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Picu Kekhawatiran, Rupiah Berpotensi Melemah hingga Rp20.000 per Dolar AS

JAKARTA — Memanasnya konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam skenario terburuk, rupiah diperkirakan dapat melemah hingga menyentuh level Rp20.000 per dolar AS.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai risiko tersebut bukan semata spekulasi. Ia menyebut potensi pelemahan rupiah didukung pola historis pergerakan mata uang Indonesia saat terjadi krisis global.

Menurut Anthony, eskalasi konflik di Timur Tengah berpeluang memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok global, serta mendorong arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia. “Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (24/3/2026).

Ia menjelaskan perekonomian Indonesia dinilai masih rentan terhadap tekanan eksternal, sebagaimana tercermin dalam beberapa episode pelemahan rupiah pada masa lalu. Pada periode 2014–2015, rupiah tercatat melemah hingga 20% ke level Rp14.650 per dolar AS. Pada 2018, depresiasi sekitar 13,5% membawa rupiah ke level Rp15.202. Sementara pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, rupiah kembali turun hampir 20% dalam waktu singkat, dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.

Dari pengalaman tersebut, Anthony menilai besarnya cadangan devisa bukan satu-satunya faktor penentu stabilitas nilai tukar. Keberlanjutan aliran dana asing disebut menjadi faktor krusial, yang kerap direspons pemerintah melalui penerbitan utang atau obligasi global.

Ia menambahkan, kombinasi kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, serta pergeseran arus modal dari pasar negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) dapat menimbulkan tekanan bersamaan terhadap neraca eksternal Indonesia. “Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data Bloomberg per Senin (23/3/2026), rupiah berada di kisaran Rp16.997 per dolar AS. Dengan pola depresiasi historis sekitar 15–20%, level Rp20.000 dinilai masih realistis apabila tekanan global terus meningkat.

“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis. Bahkan dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bisa melampaui 20% dan terjadi dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga hingga enam bulan ke depan,” ujar Anthony.