Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat dan mulai memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas ekonomi global. Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan ancaman terhadap fasilitas energi, sementara harga minyak dunia dilaporkan melonjak dan pasar bereaksi terhadap risiko meluasnya konflik di kawasan.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut memasuki fase yang semakin berbahaya. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan “menghancurkan” fasilitas pembangkit listrik Iran apabila Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Iran merespons ancaman tersebut dengan pernyataan kesiapan menyerang infrastruktur milik AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi, teknologi, hingga instalasi air.
Eskalasi juga terlihat di medan konflik. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, memicu sirene peringatan serangan udara di berbagai kota sejak dini hari, termasuk wilayah selatan seperti Arad dan Dimona. Puluhan orang dilaporkan terluka dalam dua serangan terpisah. Beberapa jam setelahnya, militer Israel disebut menggempur Teheran sebagai balasan.
Ketegangan turut merembet ke Lebanon. Israel dilaporkan menyerang posisi Hizbullah dan menewaskan sejumlah pejuang, sementara Hizbullah membalas dengan serangan ke wilayah utara Israel.
Dalam perkembangan lain, Iran disebut mulai menggunakan rudal jarak jauh. Dua rudal balistik dilaporkan ditembakkan ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.
Di tengah eskalasi tersebut, Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial. Jalur ini mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan atau penutupan di wilayah ini berpotensi langsung mengerek harga energi global.
Saat ini, selat tersebut dilaporkan praktis tertutup bagi kapal-kapal yang dianggap “musuh” oleh Iran. Meski sebagian kapal masih dapat melintas melalui koordinasi khusus, ketidakpastian yang tinggi dinilai cukup untuk mengguncang pasar.
Harga minyak dunia disebut telah menyentuh level tertinggi dalam hampir empat tahun, dan situasi ini digambarkan sebagai krisis terburuk sejak era 1970-an. Lonjakan harga energi berisiko memicu inflasi global, menekan aktivitas ekonomi, dan memperbesar peluang resesi di berbagai negara.
Dari sisi politik domestik AS, posisi Trump juga disebut menghadapi tekanan. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan serangan militer ke Iran, yang berpotensi menjadi beban menjelang pemilu Kongres.
Sementara itu, dukungan dari sekutu AS dinilai tidak sepenuhnya solid. NATO disebut tidak kompak, dan beberapa negara menolak terlibat langsung dalam konflik yang dianggap dipicu sepihak oleh Washington.
Jika eskalasi berlanjut, dunia berisiko menghadapi krisis energi yang lebih besar. Dampak lanjutannya dapat berupa kenaikan harga BBM, biaya logistik yang meningkat, serta kenaikan harga kebutuhan pokok.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, efeknya disebut bisa terasa cepat melalui tekanan pada harga bahan bakar, tarif transportasi, hingga inflasi yang memengaruhi daya beli masyarakat.