Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu perang antara Iran, Amerika Serikat, serta Israel.
Dampak perang mulai merembet ke sektor energi dan perekonomian global. Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling krusial bagi distribusi minyak dunia. Sekitar 30% pasokan minyak mentah global diketahui melewati selat yang berada di antara Oman dan Iran itu.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menyatakan penutupan Selat Hormuz berpotensi membuat dunia kehilangan pasokan minyak sekitar 17 hingga 20 juta barel per hari. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong harga minyak dunia naik, dengan proyeksi harga Brent berada di kisaran US$80 hingga US$100 per barel.
“Pagi ini sudah naik dari US$72 per barel menjadi US$79 per barel. Bahkan kecenderungannya akan naik lagi,” kata Hadi kepada Katadata.co.id, Senin, 2 Maret.
Kenaikan harga energi juga diperkirakan memicu tekanan inflasi global, seiring meningkatnya biaya logistik dan produksi. Selain minyak, kawasan konflik disebut turut dilalui oleh komoditas penting lainnya, termasuk sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) dan 30% pasokan pupuk urea dunia.

