BERITA TERKINI
Eskalasi AS-Israel dan Iran Memicu Kekhawatiran Pasar: Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Minyak dan LNG Dunia

Eskalasi AS-Israel dan Iran Memicu Kekhawatiran Pasar: Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Minyak dan LNG Dunia

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Bagi pasar energi global, eskalasi ini dinilai berisiko melampaui konflik regional karena berpotensi mengganggu Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia.

Selat Hormuz—yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman—menjadi lintasan bagi sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia yang diangkut lewat laut, dengan volume lebih dari 14 juta barel per hari. Selain itu, sekitar 20% perdagangan gas alam cair (LNG) global, terutama dari Qatar, juga bergantung pada jalur ini. Karena itu, ancaman gangguan di Selat Hormuz dipandang dapat menjadi pemicu lonjakan harga energi dan menekan pertumbuhan ekonomi global.

Iran memiliki posisi strategis dalam peta energi dunia. Negara ini merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari. Meski sempat berada di bawah sanksi internasional dalam berbagai periode, kapasitas tersebut tetap dianggap signifikan dalam keseimbangan pasokan global.

Selain faktor produksi, geografi Iran memberi pengaruh besar karena negara itu berbagi garis pantai langsung dengan Selat Hormuz. Dalam skenario eskalasi, Teheran disebut memiliki kemampuan militer—termasuk ranjau laut dan rudal jarak pendek—yang secara teknis dapat mengganggu lalu lintas kapal tanker. Selama ini pasar kerap menilai risiko gangguan besar di kawasan Teluk sebagai ancaman laten, namun perkembangan terbaru memunculkan pertanyaan atas asumsi stabilitas tersebut.

Di pasar, harga minyak pada penutupan perdagangan terakhir berada di kisaran US$72 per barel untuk Brent, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$67 per barel. Namun ketidakpastian dapat meningkatkan premi risiko geopolitik. Sejumlah analis memperkirakan harga dapat naik US$5–US$7 per barel dari penyesuaian awal risiko. Dalam skenario yang lebih buruk—misalnya jika Selat Hormuz benar-benar menjadi tidak aman bagi kapal komersial—harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel.

Kenaikan ke level tiga digit tidak hanya berdampak pada sentimen, tetapi juga berpotensi mengerek inflasi global, meningkatkan biaya logistik, dan menekan daya beli. Dampak terbesar diperkirakan akan dirasakan negara-negara Asia, mengingat sekitar tiga perempat minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China disebut memperoleh sekitar separuh impor minyaknya dari jalur ini.

Jika pasokan terganggu, negara-negara pengimpor diperkirakan bereaksi dengan menimbun persediaan. Kondisi tersebut berisiko memicu perang penawaran di pasar energi global, ketika negara-negara berlomba mengamankan suplai sementara kapasitas cadangan terbatas.

Secara teori, kapasitas produksi cadangan masih ada, terutama di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun sebagian besar kapasitas cadangan itu juga bergantung pada Selat Hormuz. Arab Saudi memiliki pipa lintas negara menuju Laut Merah, sementara UEA memiliki jalur yang berakhir di Teluk Oman. Meski demikian, kapasitasnya disebut terbatas dan tidak cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume yang biasa melintas di Selat Hormuz. Artinya, jika jalur tersebut tertutup atau terganggu signifikan, pasar global tidak memiliki alternatif instan dalam skala yang setara.

Risiko juga merambah ke pasar gas. Sekitar 20% perdagangan LNG global bergantung pada Selat Hormuz, terutama ekspor dari Qatar. Jika arus LNG terhenti, tekanan tambahan dapat muncul di pasar gas Eropa dan Asia, termasuk potensi meningkatnya volatilitas harga listrik dan dampak pada industri. Kombinasi gangguan minyak dan gas secara bersamaan dinilai dapat menciptakan guncangan energi yang lebih kompleks dibanding gangguan pada satu komoditas saja.

Eskalasi militer turut mengubah perhitungan sektor pelayaran dan asuransi. Serangan rudal Iran terhadap pangkalan AS di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain meningkatkan persepsi risiko kawasan. Dalam situasi seperti ini, perusahaan asuransi dapat menaikkan premi secara agresif untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz atau bahkan menolak memberikan perlindungan. Tanpa asuransi, banyak operator tanker diperkirakan enggan berlayar. Sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai mengalihkan rute, meski opsi pengalihan dinilai terbatas.

Di sisi kebijakan, Amerika Serikat memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) sekitar 415 juta barel. Pelepasan cadangan dapat membantu meredam lonjakan harga dalam jangka pendek. Namun efektivitasnya bergantung pada durasi dan skala gangguan. Jika krisis berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan, cadangan strategis di AS maupun negara anggota International Energy Agency berpotensi cepat berkurang. Pasar energi juga sangat sensitif terhadap ekspektasi; pelepasan cadangan bisa ditafsirkan sebagai sinyal situasi serius dan memicu volatilitas lanjutan jika gangguan dinilai berkepanjangan.

Lonjakan harga energi berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap ekonomi global: inflasi meningkat akibat kenaikan biaya bahan bakar dan logistik, bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, konsumsi dan investasi melemah karena biaya pembiayaan mahal, hingga pertumbuhan melambat dan risiko resesi meningkat. Dalam skenario ekstrem, harga dapat naik cukup tinggi untuk menekan konsumsi—atau “menghancurkan permintaan”—sehingga keseimbangan pasar tercapai melalui kontraksi ekonomi, bukan peningkatan pasokan.

Selama ini, sebagian pelaku pasar memandang konflik Timur Tengah sebagai risiko yang jarang benar-benar mengganggu pasokan besar. Namun eskalasi terbaru memperlihatkan potensi dampak yang lebih sistemik jika Selat Hormuz terganggu dalam waktu lama. Jika jalur tetap terbuka dan konflik mereda, lonjakan harga bisa bersifat sementara. Sebaliknya, jika gangguan berlarut, dampaknya dapat meluas mulai dari inflasi dan volatilitas pasar keuangan hingga ancaman resesi global. Dalam kondisi ekonomi dunia yang masih dibebani utang tinggi, suku bunga ketat, dan ketegangan geopolitik, guncangan energi baru dapat menjadi pemicu perubahan dari perlambatan menuju resesi yang lebih dalam.