BERITA TERKINI
Emas Masih Menguat, Analis Proyeksikan XAU/USD Berpeluang Uji USD3.450 Pekan Depan

Emas Masih Menguat, Analis Proyeksikan XAU/USD Berpeluang Uji USD3.450 Pekan Depan

Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) kembali menjadi perhatian pasar pada pertengahan pekan ini seiring tren penguatan yang dinilai masih konsisten. Sepanjang Agustus, harga spot gold tercatat naik sekitar 3,9%, ditopang pelemahan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga.

Dalam pergerakan terbarunya, emas sempat menyentuh level USD3.423,16 per ons, tertinggi sejak 23 Juli. Kenaikan tersebut memperkuat pandangan bahwa tren bullish masih dominan di pasar logam mulia.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai indikator teknikal saat ini mengonfirmasi arah kenaikan. Ia menyebut kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren naik yang berpeluang berlanjut hingga akhir pekan ini, bahkan dapat bertahan sampai pekan depan.

“Jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpotensi naik hingga ke area USD3.450 pada minggu depan,” kata Andy dalam analisisnya, Sabtu, 30 Agustus 2025.

Meski demikian, Andy mengingatkan adanya skenario alternatif apabila terjadi pembalikan arah (reversal). Menurutnya, jika harga menembus level kunci USD3.300, maka peluang penurunan dapat berlanjut hingga area USD3.250. Dengan demikian, level USD3.300 dipandang sebagai titik penentu arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada malam ini, yang dikenal sebagai indikator inflasi favorit The Fed. Data tersebut diperkirakan menjadi katalis utama bagi pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan. Berdasarkan perkiraan pasar, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya berada di kisaran 86% hingga 88%.

Ekspektasi penurunan suku bunga itu menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas, seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain faktor moneter, permintaan emas secara global juga disebut mengalami peningkatan.

Andy menyoroti tren sejumlah negara yang mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan menambah cadangan emas, termasuk negara-negara BRICS dan Asia Tenggara. Data yang dikemukakan menunjukkan lebih dari 244 ton emas dibeli oleh bank sentral pada kuartal I-2025, sementara porsi emas disebut mendekati 20% dari total cadangan devisa global.

Di sisi lain, minat investor juga terlihat dari aliran dana masuk ke ETF emas yang mencapai USD30 miliar pada semester pertama 2025. Menurut Andy, lonjakan permintaan ini memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven.

Faktor politik turut dinilai memberi dukungan bagi penguatan emas. Kontroversi politik di Amerika Serikat, termasuk wacana pemecatan salah satu gubernur The Fed, memunculkan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Situasi tersebut menambah kecemasan pasar dan mendorong investor mencari perlindungan pada emas, terutama di tengah inflasi yang masih tinggi serta volatilitas pasar global yang meningkat.

“Dengan kombinasi faktor teknikal, fundamental, hingga politik global, emas berpotensi tetap berada di jalur penguatan dalam waktu dekat, sambil menanti rilis data PCE sebagai penentu arah berikutnya,” ujar Andy.