Elon Musk mengumumkan platform media sosial X akan meluncurkan fitur pembayaran bernama X Money pada April. Musk menyebut akses awal untuk publik akan tersedia bulan depan, sebagaimana ia tulis dalam unggahan di X pada Selasa (10/3).
X Money digambarkan sebagai upaya menjadikan X sebagai aplikasi finansial dengan sejumlah layanan, termasuk transfer peer-to-peer, setoran bank, kartu debit, dan cashback. Platform ini, dikutip dari Coindesk, telah mengantongi lisensi di lebih dari 40 negara bagian di Amerika Serikat melalui anak perusahaannya, X Payments, serta bekerja sama dengan Visa untuk layanan pengisian saldo akun.
Pengumuman tersebut sempat memicu kenaikan tipis harga dogecoin (DOGE), meski tidak ada rujukan langsung terhadap kripto dalam pernyataan Musk. Namun, harga DOGE kemudian kembali turun seiring pelemahan pasar kripto secara umum.
Reaksi pasar ini dinilai mencerminkan pola yang berulang sejak 2021, ketika pernyataan Musk terkait X Payments kerap memunculkan spekulasi bahwa DOGE akan diintegrasikan. Musk sebelumnya pernah menyebut dogecoin sebagai “kripto favoritnya”, dan Tesla sempat menerima DOGE untuk pembelian barang pada 2022.
Meski begitu, X Money yang dijelaskan dalam informasi awal disebut sebagai produk berbasis mata uang fiat, dengan fitur transfer antar pengguna, integrasi perbankan, dan kartu debit. Dengan karakteristik tersebut, layanan ini disebut lebih mirip Venmo yang terintegrasi dengan aplikasi media sosial, bukan dompet kripto.
Pada Februari, Kepala Produk X Nikita Bier juga menyampaikan bahwa alat perdagangan kripto akan hadir di X melalui Smart Cashtags. Namun, ia menegaskan platform itu tidak akan mengeksekusi perdagangan atau bertindak sebagai pialang; fitur tersebut hanya menyediakan data dan tautan yang mengarahkan pengguna ke bursa kripto.
Musk belakangan turut membagikan ulang prediksi pihak ketiga mengenai kemungkinan fitur masa depan X Money yang mencakup “integrasi kripto”, tetapi perusahaan belum mengonfirmasi hal tersebut.
Di luar isu DOGE, perhatian pasar kripto juga tertuju pada imbal hasil 6 persen yang disebut ditawarkan X Money. Tingkat imbal hasil tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan hampir semua rekening tabungan di AS dan bersaing dengan reksa dana pasar uang.
Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana skema imbal hasil itu dihasilkan—apakah disubsidi untuk mendorong adopsi, berasal dari pinjaman deposito, atau melalui mekanisme lain—karena hal ini dapat memengaruhi cara regulator memandangnya.
Waktu peluncuran X Money juga bertepatan dengan perdebatan di Kongres AS mengenai RUU CLARITY, yang bertujuan menetapkan aturan untuk produk stablecoin yang memberikan imbal hasil. Komite Perbankan Senat menargetkan pertengahan hingga akhir Maret untuk proses pembahasan rancangan undang-undang tersebut.
Meski X Money bukan produk stablecoin, layanan ini disebut membidik kebutuhan konsumen yang serupa, yakni mencari imbal hasil lebih baik daripada yang ditawarkan bank, namun melalui jalur regulasi yang berbeda. Jika X Money diluncurkan secara luas dengan bunga tahunan 6 persen sebelum Undang-Undang CLARITY disahkan, hal itu dinilai berpotensi memunculkan persoalan baru dalam lanskap regulasi.