Kinerja perekonomian Sumatera Selatan dinilai berada pada jalur yang solid dan berdaya tahan di tengah dinamika ekonomi global. Penilaian itu mengemuka dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 bertajuk “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” yang digelar Bank Indonesia pada Rabu, 28 Januari 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan pentingnya penguatan transparansi dan digitalisasi sistem keuangan. Salah satu fokusnya adalah perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dengan target 60 juta pengguna hingga ke tingkat internasional.
Menindaklanjuti arah kebijakan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra menyampaikan kondisi ekonomi daerah menunjukkan capaian yang positif. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Sumsel mencapai 5,2 persen (year on year/yoy), yang menempatkannya sebagai tertinggi kedua di Pulau Sumatera, disertai inflasi yang dinilai sangat terkendali.
Edward menambahkan, pemerintah daerah akan berupaya menjaga momentum pertumbuhan melalui percepatan hilirisasi industri serta optimalisasi potensi sumber daya alam sebagai penopang utama ekonomi Sumatera Selatan ke depan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Bambang Pramono menyampaikan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi daerah masih terjaga. Berdasarkan survei pada Desember 2025, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Sumsel tercatat sebesar 113,13.
Dari sisi stabilitas sektor keuangan, Bambang menyebut pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat dari 7,03 persen (yoy) pada triwulan III 2025 menjadi 7,22 persen (yoy). Ia juga menyebut sejumlah proyek strategis, seperti pengembangan Bio Avtur berbasis kelapa dan Pelabuhan Tanjung Carat, diproyeksikan menjadi motor penggerak baru perekonomian daerah.

