BERITA TERKINI
Ekonomi Global 2026: Tumbuh, tetapi Rapuh di Tengah Perang Dagang, Geopolitik, dan Ledakan AI

Ekonomi Global 2026: Tumbuh, tetapi Rapuh di Tengah Perang Dagang, Geopolitik, dan Ledakan AI

Ekonomi global memasuki 2026 dengan gambaran yang tampak kontras: di satu sisi, pasar menunjukkan ketahanan yang ditopang investasi besar pada kecerdasan buatan (AI) dan pelonggaran kebijakan moneter; di sisi lain, risiko penurunan justru menumpuk akibat dampak tertunda perang dagang, pelemahan struktural di Eropa, serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 3,3% pada 2026, naik 0,2 poin persentase dari perkiraan Oktober. Namun, di balik proyeksi tersebut, sejumlah indikator menandakan pergeseran besar yang dapat menguji daya tahan rantai pasok dan stabilitas pasar keuangan.

Salah satu sumber tekanan utama adalah perang dagang yang memuncak pada 2025. Ketidakpastian meningkat setelah kebijakan perdagangan Donald Trump, termasuk pengumuman “Hari Pembebasan” pada April 2025. Meski banyak ekonom sempat memperkirakan inflasi lebih tinggi dan perlambatan tajam, ekonomi global tetap tumbuh sekitar 3,2–3,3% pada 2025. Namun, sejumlah analisis menilai biaya sebenarnya belum hilang, melainkan tertunda ke 2026.

Menurut perhitungan Budget Lab Universitas Yale, tarif rata-rata Amerika Serikat meningkat dari 2,5% menjadi 17,9% sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025—level tertinggi sejak 1934. Dampaknya diperkirakan menekan perdagangan global: pertumbuhan perdagangan barang dan jasa dunia diproyeksikan melambat dari 2% pada 2025 menjadi 0,6% pada 2026. Pemulihan kecil baru diperkirakan terjadi pada 2027 dengan proyeksi 1,8%.

Perdagangan global pada 2025 sempat tertopang oleh pengiriman lebih awal dan penimbunan barang oleh AS, pergeseran arus perdagangan, serta investasi AI yang besar. Namun, konsekuensi perang dagang dinilai berlanjut pada 2026 dan berpotensi menekan pertumbuhan lebih signifikan. Komisi Ekonomi PBB bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,7%, di bawah rata-rata pra-pandemi 3,2%, dengan risiko dunia memasuki lintasan pertumbuhan yang lebih lambat secara permanen.

Di antara negara-negara G7, AS masih dipandang sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat. IMF memperkirakan pertumbuhan AS 2,4% pada 2026, naik dari 2,2% pada tahun sebelumnya, dengan investasi AI dan inovasi teknologi sebagai penopang. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai tetap di bawah rata-rata historis dan di bawah potensi ekonomi AS. Tarif diperkirakan mulai merembes ke harga konsumen dan menekan konsumsi, meski sebagian diimbangi suku bunga lebih rendah dan stimulus fiskal lanjutan.

China menghadapi rangkaian tantangan yang lebih kompleks. IMF memproyeksikan pertumbuhan 4,5% pada 2026, didukung pengurangan tarif atas barang China serta upaya mengalihkan ekspor ke Asia Tenggara dan Eropa. Namun, krisis perumahan masih berlangsung, sementara kampanye anti-involusi pemerintah mempercepat konsolidasi sektor-sektor yang mengalami kelebihan kapasitas seperti baja, semen, dan panel surya. Kontribusi ekspor bersih terhadap PDB juga diperkirakan menurun.

Untuk Rusia, IMF memperkirakan pertumbuhan 0,8% pada 2026. Perlambatan ini dikaitkan dengan memudarnya efek khusus terkait perang—seperti produksi senjata dan konsumsi yang didorong negara—sementara sanksi dan kekurangan tenaga kerja semakin menekan investasi serta produktivitas.

Di Eropa, zona euro diproyeksikan hanya tumbuh 1,3%. Jerman diperkirakan tumbuh 1,1% dan tetap berada di bawah rata-rata, dengan hambatan struktural yang menahan ekspor dan produksi industri. Spanyol menjadi pengecualian dengan proyeksi 2,3%. Peningkatan belanja militer dan investasi publik di Jerman disebut dapat menjadi penahan tekanan, meski sifatnya moderat.

Berbagai lembaga juga menyoroti risiko yang meningkat. Laporan Risiko Global 2026 dari Forum Ekonomi Dunia menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai risiko global terbesar. Risiko ekonomi naik paling tajam dalam jangka pendek, dengan ancaman resesi dan risiko inflasi melonjak delapan peringkat dibanding tahun sebelumnya. Kekhawatiran atas dampak disruptif AI ikut meningkat, sementara risiko lingkungan dinilai kurang mendesak dalam jangka pendek meski tidak hilang.

Munich Re, dalam Prospek Ekonomi 2026, menilai risiko penurunan secara keseluruhan lebih besar dibanding peluang skenario yang lebih baik dari perkiraan. Lembaga itu menyoroti risiko geopolitik serta keputusan kebijakan AS yang mendadak yang dapat memukul ekonomi dan perdagangan internasional. Kenaikan tajam pasar saham juga memunculkan kekhawatiran valuasi berlebihan, terutama pada saham teknologi setelah booming AI, yang berpotensi memicu guncangan di pasar keuangan.

Allianz Trade mengidentifikasi empat risiko penurunan: kenaikan tarif lebih lanjut; guncangan de-dolarisasi dalam kebijakan moneter AS dengan probabilitas 35%; krisis utang negara dengan probabilitas 20% yang dapat membatasi kebijakan fiskal di Prancis, Italia, Inggris, dan AS; serta peningkatan ketegangan geopolitik, termasuk risiko konflik NATO–Rusia, eskalasi di Timur Tengah, dan konflik terbuka antara China dan Taiwan.

Ketidakpastian geopolitik menjadi sorotan setelah serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk disebut menghantam pusat perdagangan minyak global dan keuangan internasional. Bagi kota-kota seperti Doha, Dubai, dan Manama, bahkan serangan terbatas pada hotel, bandara, dan kawasan industri dinilai dapat merusak reputasi sebagai pusat bisnis dan pariwisata yang aman. Harga minyak telah bereaksi dengan fluktuasi signifikan dan pasar keuangan berada di bawah tekanan.

Konflik ini terjadi ketika ekonomi utama sudah membawa kerentanan masing-masing: AS baru mulai pulih dari dampak perang dagang, Eropa menghadapi stagnasi dan tekanan belanja militer, sementara China bergulat dengan krisis perumahan dan kelebihan kapasitas. Eskalasi di Timur Tengah menambah variabel baru yang dampak akhirnya belum jelas.

Di tengah tekanan tersebut, ledakan AI justru muncul sebagai faktor penstabil. IMF secara eksplisit mengaitkan revisi naik proyeksi pertumbuhan global dengan investasi pada teknologi baru seperti AI. Ekonomi global dinilai mampu pulih dari gangguan perdagangan dan tarif pada 2025, sebagian karena dorongan teknologi. Namun, risiko baru juga muncul dari sektor ini.

Dalam sebuah acara ACCA, ekonom Kenneth Rogoff memperingatkan bahwa tingkat ketidakpastian yang besar tidak tercermin di pasar keuangan. Ia memprediksi kehancuran pasar saham besar dalam tiga tahun ke depan, meski mengakui pasar masih berpotensi naik signifikan sebelum koreksi terjadi.

Pertanyaan apakah ekonomi global sudah mencapai titik terendah dinilai tidak memiliki jawaban sederhana. Data menunjukkan kombinasi faktor penopang—ketahanan ekonomi, pelonggaran moneter, stimulus fiskal, serta investasi AI—dan faktor penekan, seperti perlambatan tajam perdagangan dunia, meningkatnya konflik geopolitik, tingginya utang publik, serta ancaman koreksi pada pasar teknologi yang dinilai terlalu tinggi.

Skenario yang disebut paling mungkin adalah pertumbuhan yang “stabil namun rapuh”, sebagaimana digambarkan Kepala Ekonom ACCA Jonathan Ashworth. Ekonomi global diperkirakan tumbuh sedikit di atas 3% berkat kebijakan moneter yang longgar, stimulus fiskal, dan booming AI. Namun, kondisi ini tetap rentan terhadap guncangan karena fragmentasi perdagangan, beban utang publik, valuasi pasar yang tinggi, dan titik-titik konflik geopolitik yang dapat berubah cepat.

Dalam kerangka itu, “titik terendah” belum dianggap tercapai, tetapi keruntuhan yang tidak terkendali juga bukan skenario paling mungkin. Perkembangan beberapa bulan ke depan dipandang krusial, termasuk dinamika konflik dengan Iran, hasil sengketa tarif AS di Mahkamah Agung, serta kemampuan bank sentral menyeimbangkan upaya menekan inflasi dan menjaga pertumbuhan.