BERITA TERKINI
Ekonomi Global 2026 Diproyeksi Melambat, BI Jabar Soroti Lonjakan Investasi AI dan “Anomali” Pengangguran

Ekonomi Global 2026 Diproyeksi Melambat, BI Jabar Soroti Lonjakan Investasi AI dan “Anomali” Pengangguran

BANDUNG — Bank Indonesia (BI) Jawa Barat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan melambat menjadi 3,2 persen (year on year/yoy), turun tipis dibandingkan 2025 yang diperkirakan mencapai 3,3 persen (yoy). Perlambatan ini terjadi di tengah derasnya arus investasi teknologi, khususnya artificial intelligence (AI), yang justru meningkat di berbagai negara.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur, menjelaskan perlambatan ekonomi global dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat serta kerentanan rantai pasok global. Pada saat yang sama, prospek perekonomian AS diperkirakan membaik karena dorongan investasi sektor teknologi, termasuk AI, serta stimulus fiskal berupa pengurangan pajak.

Menurut Muhamad Nur, perlambatan juga diperkirakan terjadi di sejumlah negara besar seperti Jepang, Tiongkok, dan India. Faktor pendorongnya antara lain melemahnya permintaan domestik dan ekspor.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Barat, Muslimin Anwar, menilai dinamika global tersebut akan berpengaruh terhadap ekonomi digital dan pola investasi ke depan. Ia menyoroti bahwa meski pertumbuhan global melambat, investasi di sektor teknologi dan AI berjalan sangat cepat.

Muslimin mencontohkan perusahaan besar di Amerika Serikat seperti Microsoft dan Meta yang diperkirakan menggelontorkan investasi sekitar 650 miliar dolar AS pada 2026 untuk pengembangan infrastruktur dan pusat data. Ia menyebut dampak AI bahkan dihitung dapat menyumbang sekitar 1 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat, dengan investasi yang terfokus pada pembangunan infrastruktur dan data center.

Di kawasan Asia Tenggara, perkembangan pusat data juga dinilai kian pesat. Muslimin menyebut data center di Singapura mulai banyak melakukan mirroring ke Batam karena faktor kedekatan dan efisiensi.

Di tengah perubahan global tersebut, BI Jabar menyoroti fenomena yang disebut sebagai “anomali ekonomi” di Jawa Barat. Provinsi ini tercatat menjadi magnet investasi tertinggi di Indonesia dengan nilai mencapai Rp266,8 triliun pada 2025. Namun, tingkat pengangguran terbuka masih berada di kisaran 6,7 persen dan termasuk salah satu yang tertinggi secara nasional.

Muslimin menjelaskan, sebagian besar investasi di Jawa Barat terkonsentrasi di Karawang, Bekasi, dan Purwakarta, terutama pada sektor otomotif, mesin, dan teknologi tinggi. Karakter investasi di sektor ini cenderung menggunakan mesin terkini, robot, dan otomatisasi sehingga tidak bersifat padat karya.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak menutup peluang. Tantangan utama, menurut BI Jabar, terletak pada kesiapan sumber daya manusia, termasuk kebutuhan link and match antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri berteknologi tinggi.