Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan banyak analis, sementara China justru mengalami perlambatan. Menurutnya, kondisi tersebut ikut mendorong perubahan strategi bank sentral global dalam mengelola cadangan devisa.
David menyebut pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih berada di kisaran 3,6–3,8 persen, lebih tinggi dari ekspektasi sebagian analis. Sebaliknya, China dinilai melambat dari 5,2 persen ke 4,8 persen, disertai berbagai persoalan domestik seperti konsumsi yang menurun, pengangguran yang meningkat, serta produksi industri yang melemah.
Ia menambahkan, selama ini China dapat mengandalkan pasar ASEAN untuk menampung kelebihan produksi. Namun, dengan melambatnya negara-negara emerging market, termasuk di kawasan ASEAN, strategi tersebut dinilai tidak lagi sepenuhnya bisa diandalkan.
Dari sisi pengelolaan cadangan devisa, David menyoroti adanya perubahan struktural pascapandemi. Jika sebelumnya mayoritas cadangan devisa banyak ditempatkan pada surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), kini tren diversifikasi dinilai semakin menguat.
Menurut David, porsi penempatan pada US Treasury pernah mencapai sekitar 70 persen. Setelah pandemi, porsinya disebut naik lagi dan kini hampir 30 persen serta berpotensi bertambah. Di saat yang sama, kepemilikan emas oleh bank sentral global juga meningkat. Ia menilai hal itu menguat setelah Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai instrumen dalam perang Rusia–Ukraina, termasuk pembekuan aset Rusia, yang memicu kekhawatiran sejumlah bank sentral terhadap potensi risiko serupa pada aset mereka.
David menilai situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia. Negara-negara emerging market dapat menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai alternatif dalam diversifikasi cadangan devisa. Ia menyebut, Indonesia juga berpeluang melakukan diversifikasi dengan menjual SBN kepada negara-negara yang ingin memperluas pilihan aset mereka, seiring meningkatnya minat bank sentral global terhadap emas dan surat berharga negara lain.
Dari sisi kebijakan moneter, David melihat adanya kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, sementara Bank Indonesia cenderung menahan BI Rate. Ia menyatakan, berdasarkan perhitungan variabel makro, BI Rate berpeluang tetap, meski kemungkinan penurunan masih bergantung pada perkembangan selanjutnya.
Sementara itu, David mencatat nilai tukar rupiah sepanjang tahun melemah sekitar 3,5 persen terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar justru melemah sekitar 8,5 persen terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen, dan pound sterling.
Ia menambahkan, rupiah terhadap euro melemah sekitar 12–13 persen. Adapun mata uang yang disebut justru menguat adalah dolar Singapura dan yuan.

