SURABAYA — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, konsumsi masyarakat umumnya meningkat. Berbagai kebutuhan mulai dari pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik kerap dibeli untuk menyambut Lebaran.
Selain itu, tradisi halalbihalal, reuni, dan silaturahmi keluarga juga mendorong pengeluaran menjadi lebih besar dibanding hari biasa.
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Tika Widiastuti menilai peningkatan konsumsi menjelang Lebaran merupakan hal yang wajar. Menurutnya, aktivitas khas Lebaran membuat kebutuhan masyarakat ikut bertambah, mulai dari mudik, halal bihalal, hingga menyiapkan hidangan untuk tamu.
Namun, Tika mengingatkan bahwa konsumsi tidak selalu berarti perilaku konsumtif. Dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Ia menyebut, kondisi itu biasanya dipengaruhi tren, dorongan meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan.
Tika menambahkan, kesalahan yang sering terjadi menjelang Lebaran adalah tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Banyak orang cenderung langsung memenuhi berbagai kebutuhan tanpa menyusun urutan prioritas.
Ia menjelaskan, dalam prinsip ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkat, yakni dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Menurutnya, tidak sedikit orang justru lebih fokus pada pemenuhan keinginan.
“Karena, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” ujar Tika, Rabu (18/3/2026).