Target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen dinilai tidak semata-mata mengejar capaian angka, melainkan harus diikuti dampak nyata, terutama dalam menurunkan tingkat pengangguran.
Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Imamudin Yuliadi, menyebut dampak pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada sektor yang menjadi penopangnya. Jika pertumbuhan ditopang sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, maka pengaruhnya terhadap pengurangan pengangguran dan kemiskinan akan lebih terasa.
“Maka dampaknya akan signifikan terhadap pengurangan pengangguran dan kemiskinan,” kata Imamudin dalam pernyataan tertulis, Kamis, 19 Maret 2026. Ia menambahkan, hal tersebut yang diharapkan dari target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Imamudin juga menyoroti potensi besar Indonesia melalui bonus demografi, yakni tingginya jumlah penduduk usia produktif. Namun, menurutnya, kondisi ini dapat berubah menjadi tantangan bila tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
Ia menilai pertambahan jumlah angkatan kerja setiap tahun harus disertai kemampuan sektor ekonomi untuk menyerap tenaga kerja. Jika tidak, tingginya angka pengangguran berisiko memunculkan persoalan sosial dan ekonomi.
“Bonus demografi kita sangat besar, angkatan kerja terus bertambah setiap tahun,” ujarnya. “Jika sektor ekonomi tidak mampu menyerap tenaga kerja, pengangguran yang besar dapat menjadi bom waktu bagi perekonomian.”
Karena itu, Imamudin menekankan perlunya penguatan sektor industri sebagai motor utama penyerapan tenaga kerja. Dengan pengembangan yang tepat, berbagai komoditas dalam negeri dapat diolah lebih lanjut agar memiliki nilai tambah, sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.