Pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dinilai menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam tekanan. Kondisi tersebut mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat sekaligus menurunnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai, persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah lemahnya trust atau kepercayaan terhadap tata kelola pemerintahan dan efektivitas kebijakan ekonomi. Menurutnya, kepercayaan merupakan faktor kunci dalam keputusan investasi.
“Dalam investasi: no trust, no deal. Jadi, sinyal untuk meningkatkan kepercayaan kepada pemerintahan yang bertata kelola baik, bersih dari kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi hal yang utama,” kata Yanuar, Rabu (8/10/2025).
Ia menilai, selama kebijakan ekspansi ekonomi dijalankan tanpa dibarengi pembenahan kelembagaan, serta masih ada potensi konflik kepentingan di kalangan pejabat publik, maka kepercayaan akan sulit terbentuk.
“Sepanjang kebijakan ekspansi ditempuh tanpa pembenahan kelembagaan, dan unsur konflik kepentingan pejabatnya terasa, maka trust sulit didapat,” ujarnya.
Yanuar menyarankan pemerintah untuk melakukan konsolidasi kebijakan dan memprioritaskan penyelesaian tekanan fiskal sebelum melanjutkan agenda ekspansi ekonomi. Ia menilai, pembenahan kelembagaan perlu dilakukan terlebih dahulu agar kebijakan ekspansi dapat berjalan lebih efektif.
“Strategi terbaik, ya konsolidasi dan fokus menyelesaikan tekanan fiskal, membenahi kelembagaan, setelah itu baru memulai kebijakan ekspansi,” jelasnya.
Ia menekankan, tanpa perbaikan kepercayaan dan tata kelola kebijakan, langkah ekspansi berisiko hanya memberi dampak jangka pendek. Bagi Yanuar, kepercayaan merupakan modal utama; tanpa reformasi kelembagaan yang kuat, efektivitas kebijakan dapat berkurang.
Di pasar keuangan, pelemahan rupiah berlanjut di tengah penguatan dolar AS. Pada perdagangan Rabu (8/10), kurs rupiah di pasar spot melemah 12 poin atau 0,07% menjadi Rp 16.573 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jisdor turun 46 poin atau 0,28% menjadi Rp 16.606 per dolar AS.
Dari dalam negeri, IKK pada September 2025 tercatat sebesar 115, turun dari 117,2 pada Agustus. Angka ini disebut sebagai level terendah sejak April 2022.
Bank Indonesia menyatakan, meski IKK menurun, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tergolong optimistis karena indeks berada di atas 100. Namun, dua komponen pembentuknya tercatat melemah. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 105,1 menjadi 102,7, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) bertahan di level 127,2.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS menguat 0,31% menjadi 98,88 pada sore hari dan sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus 2025.

