BERITA TERKINI
Eco-Anxiety Menguat di Kota-kota Besar ASEAN, Menggeser Pola Konsumsi hingga Arah Investasi

Eco-Anxiety Menguat di Kota-kota Besar ASEAN, Menggeser Pola Konsumsi hingga Arah Investasi

Di banyak kota besar Asia Tenggara, kecemasan terhadap krisis iklim kian hadir dalam keseharian, tidak lagi terbatas pada ruang aktivisme. Fenomena yang dikenal sebagai eco-anxiety—rasa cemas, khawatir, atau stres akibat memburuknya kondisi lingkungan—perlahan membentuk cara masyarakat memandang masa depan, sekaligus memengaruhi keputusan konsumsi dan arah ekonomi di kawasan.

Eco-anxiety meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring makin seringnya masyarakat menghadapi cuaca ekstrem, polusi yang memburuk, serta ketidakpastian terkait dampak perubahan iklim. Meski kerap tidak tampak di permukaan, kecemasan ini menjadi “fenomena sunyi” yang muncul dalam percakapan sehari-hari, mulai dari keluhan tentang panas ekstrem hingga kekhawatiran banjir yang dinilai makin parah dari tahun ke tahun.

Di Asia Tenggara, tekanan psikologis ini terasa lebih kuat karena sejumlah negara berada di garis depan risiko iklim. Indonesia, Filipina, dan Vietnam kerap disebut sebagai contoh kawasan yang menghadapi ancaman bencana yang meningkat, seperti kebakaran hutan, gelombang panas, banjir besar, hingga penurunan kualitas udara. Paparan dampak yang berulang membuat kecemasan iklim semakin terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat.

Kelompok yang paling kuat merasakan dampak psikologis tersebut adalah generasi muda. Sejumlah survei regional menggambarkan mayoritas anak muda merasa khawatir, tidak aman, dan pesimistis terhadap masa depan lingkungan. Kekhawatiran itu juga dipengaruhi oleh budaya digital: konten tentang panas ekstrem, kualitas udara buruk, banjir dadakan, hingga tips hidup berkelanjutan rutin beredar di TikTok, IG Reels, dan X. Paparan visual yang terus-menerus memperkuat kesadaran kolektif bahwa krisis iklim bukan isu jauh, melainkan ancaman yang dekat.

Perubahan emosi ini kemudian berimbas pada perilaku konsumen. Di berbagai kota besar ASEAN, konsumen—terutama generasi muda—menjadi lebih selektif dan kritis dalam memilih produk. Mereka cenderung menghindari pilihan yang dipersepsikan merusak lingkungan dan mulai beralih ke pola konsumsi yang dianggap lebih etis serta berkelanjutan.

Minat terhadap produk ramah lingkungan meningkat, dari kebutuhan rumah tangga hingga produk kecantikan. Gaya hidup “guilt-free”—mengonsumsi tanpa merasa bersalah terhadap bumi—muncul sebagai tren, seiring bertumbuhnya merek yang menonjolkan jejak karbon rendah, bahan alami, serta transparansi rantai pasok. Bersamaan dengan itu, muncul pula gejala “green loyalty”, yakni kecenderungan konsumen lebih setia pada merek yang dinilai konsisten menjalankan praktik berkelanjutan. Bagi sebagian anak muda, keberlanjutan tidak lagi dianggap nilai tambah, melainkan standar baru dalam menilai kualitas sebuah merek.

Perubahan tersebut tercermin pada praktik konsumsi yang makin mudah ditemui: refill station yang bertambah, thrifting yang menjadi gaya hidup, meningkatnya minat pada clean beauty, hingga penerimaan yang lebih luas terhadap makanan berbasis tanaman. Kesadaran perjalanan rendah emisi juga disebut meningkat, dengan konsumen mempertimbangkan moda transportasi atau destinasi yang lebih ramah lingkungan.

Dari sisi ekonomi, eco-anxiety turut membuka ruang bagi sektor-sektor baru. Kecemasan iklim yang awalnya dipandang sebagai beban psikologis justru mendorong inovasi dan memperluas peluang bisnis. Pertumbuhan disebut terlihat pada energi terbarukan, sustainable fashion, serta layanan green fintech seperti aplikasi pelacakan karbon. Sektor eco-wellness juga berkembang dengan menawarkan produk dan layanan yang menggabungkan kesehatan mental dan keberlanjutan.

Sejumlah startup memanfaatkan eco-anxiety sebagai insight pasar untuk menghadirkan solusi digital, platform donasi pohon, edukasi iklim, hingga marketplace hijau. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana kecemasan dapat bertransformasi menjadi pendorong perubahan dalam lanskap bisnis di ASEAN.

Fenomena tersebut juga mulai terbaca oleh investor. Dalam beberapa tahun terakhir, dana ventura dan investor institusional makin aktif membiayai climate-tech dan inovasi hijau, dengan melihat keberlanjutan sebagai fondasi ekonomi kawasan ke depan. Singapura, Indonesia, dan Vietnam disebut menjadi magnet investasi hijau. Singapura dinilai unggul melalui ekosistem startup dan kebijakan yang mendukung inovasi; Indonesia menawarkan pasar besar sekaligus kebutuhan solusi lingkungan seperti energi terbarukan dan pengelolaan sampah; sementara Vietnam menarik minat pada teknologi efisiensi energi seiring transformasi industrinya.

Perusahaan besar pun menyesuaikan strategi melalui green positioning, termasuk laporan keberlanjutan dan kampanye pengurangan emisi, untuk merespons konsumen yang semakin kritis. Pergerakan industri dan investor ini menguatkan posisi eco-anxiety bukan sekadar gejala sosial, melainkan sinyal pasar yang ikut mendorong arah ekonomi ASEAN.

Namun, peluang tersebut dibayangi tantangan. Salah satunya risiko greenwashing, ketika klaim ramah lingkungan digunakan sebagai strategi pemasaran tanpa perubahan nyata. Praktik ini berpotensi merusak kepercayaan publik dan membuat konsumen semakin skeptis terhadap label “hijau”.

Tantangan lain adalah persepsi bahwa gaya hidup berkelanjutan masih mahal. Produk organik, barang daur ulang, hingga layanan ramah lingkungan kerap dibanderol lebih tinggi, sehingga akses terhadap pilihan hijau tidak merata dan lebih banyak dinikmati kelompok tertentu di kota besar. Hambatan juga datang dari infrastruktur yang belum merata, seperti fasilitas daur ulang, transportasi rendah emisi, dan akses energi terbarukan yang belum tersedia luas di berbagai wilayah ASEAN.

Dari sisi kebijakan, regulasi keberlanjutan disebut masih lemah. Standar produksi hijau, transparansi rantai pasok, dan aturan jejak karbon belum sepenuhnya ditegakkan. Tanpa regulasi yang kuat, pasar hijau dinilai sulit berkembang secara sehat dan inklusif.

Terlepas dari tantangan itu, eco-anxiety dapat dibaca sebagai momentum perubahan. Fenomena ini mencerminkan menguatnya kesadaran masyarakat terhadap krisis iklim, sekaligus mendorong pergeseran cara berpikir, berperilaku, dan berbelanja. Dengan dukungan regulasi yang lebih kuat, infrastruktur hijau yang lebih merata, serta komitmen nyata dari pelaku usaha dan investor, kawasan ASEAN dinilai memiliki peluang mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.