BERITA TERKINI
DP World: Transformasi Rantai Pasok Dibutuhkan untuk Menekan Limbah Makanan Global

DP World: Transformasi Rantai Pasok Dibutuhkan untuk Menekan Limbah Makanan Global

Kehilangan dan pemborosan makanan global masih menjadi persoalan besar. Kegagalan logistik serta lemahnya pengelolaan antara pasokan dan permintaan disebut sebagai pendorong utama, yang membuat sebagian makanan terbuang sebelum sampai ke konsumen.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan sekitar 20 persen dari seluruh makanan yang diproduksi di dunia berakhir terbuang. Secara keseluruhan, jumlah ini disebut setara dengan satu miliar makanan setiap hari.

Di tengah skala masalah tersebut, penanganan limbah makanan dinilai membutuhkan koordinasi yang lebih efisien dan perencanaan lebih baik di sepanjang rantai pasok, terutama pada tahap sebelum produk mencapai pengecer. Dalam laporan yang baru diterbitkan, DP World merinci nilai tersembunyi dari logistik barang mudah rusak dan menelaah cara rantai pasok dapat bertransformasi untuk membatasi limbah makanan.

Menurut FAO, inefisiensi rantai pasok berkontribusi terhadap sekitar 400 miliar dollar AS pemborosan makanan global sebelum barang sampai di pengecer. Kerugian terbesar disebut terjadi selama transit, khususnya di wilayah beriklim lebih panas, ketika suhu ekstrem dapat membahayakan kondisi penyimpanan dan transportasi.

Sejumlah faktor memperbesar kerugian, mulai dari keterbatasan rantai dingin (cold chain) atau fasilitas dengan kontrol suhu, kelebihan produksi, permintaan yang berfluktuasi, hingga standar penilaian yang tidak konsisten. Untuk mengatasinya, laporan tersebut menekankan pentingnya pemanfaatan data dan teknologi agar rantai pasok lebih transparan dan efisien, sekaligus memastikan produk yang paling rentan bisa lebih cepat menjangkau pasar.

UN Environment Programme (UNEP) memperkirakan limbah makanan menyumbang 8–10 persen emisi gas rumah kaca global, yang sebagian besar berasal dari rantai pasok. Pada saat yang sama, sekitar 2,8 miliar orang tidak mampu membeli makanan bergizi dan ratusan juta orang lainnya mengalami kelaparan setiap hari.

“Jika kita ingin mengatasinya, mendapatkan logistik yang tepat sangatlah penting, terutama di belahan bumi selatan, di mana infrastruktur rantai dingin membutuhkan investasi yang lebih berkelanjutan,” kata Alfred Whitman, Wakil Presiden Global Barang yang Mudah Rusak & Pertanian di DP World. Ia menambahkan, untuk membangun rantai pasok yang lebih andal, pelaku industri perlu memahami biaya dari gangguan dan mengetahui prioritas yang ditetapkan pemilik kargo dalam memperbaiki logistik.

Laporan DP World juga menganalisis tanggapan survei dari pemilik kargo barang mudah rusak, dengan fokus pada frekuensi serta dampak finansial gangguan pengiriman. Jika volatilitas geopolitik selama beberapa tahun terakhir menjadi sumber ketidakstabilan, perubahan pola cuaca kini disebut sebagai tantangan terbesar bagi sektor logistik.

Sebanyak 93 persen responden melaporkan gangguan terkait iklim sebagai risiko utama, dengan kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem disebut sebagai ancaman berulang bagi bisnis mereka. Penelitian King’s College London turut memperingatkan bahwa guncangan iklim yang semakin parah dapat memicu kerugian rantai pasok global dengan total nilai 25 triliun dollar AS pada 2060.

Tekanan berkelanjutan ini, menurut laporan, mendorong kenaikan biaya dan menurunkan kepuasan pelanggan bagi banyak perusahaan. Untuk mengelola gangguan, 53 persen responden menyatakan beralih ke logistik kontrak, 51 persen mengandalkan layanan transportasi domestik, 49 persen menerapkan teknologi rantai pasok, dan 47 persen bekerja sama dengan perusahaan pengiriman barang.

DP World mengidentifikasi lima tindakan utama untuk memperkuat ketahanan dan mengurangi limbah makanan. Langkah tersebut mencakup pelacakan limbah yang dapat dihindari serta tingkat karbon di seluruh rantai dingin, penggunaan visibilitas data sebagai ukuran keberlanjutan, serta penerapan analitik prediktif dan AI untuk mendeteksi risiko sejak dini.

Selain itu, investasi pada rantai dingin yang lebih canggih di tingkat lokal dan regional dinilai penting untuk menjaga kualitas makanan. Standar keberhasilan logistik juga didorong agar tidak berhenti pada “barang sampai,” melainkan “barang sampai dengan kualitas tinggi.” Menurut laporan, penguatan sistem pendingin dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kepercayaan pelanggan sekaligus membantu menekan limbah, emisi, dan persoalan kelaparan secara global.