BERITA TERKINI
Dedy Suryadi Soroti Tradisi “Uang Jakati” sebagai Sarana Literasi Keuangan Anak

Dedy Suryadi Soroti Tradisi “Uang Jakati” sebagai Sarana Literasi Keuangan Anak

Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) kembali terlibat dalam upaya pencerahan publik melalui penyampaian pengetahuan yang aplikatif dan kontekstual. Salah seorang dosen UBMG, Dedy Suryadi, M.Ak, Ak, BKP, CA, C.FTax, yang juga Ketua Program Studi S1 Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Pemerintahan dan Sektor Publik (FPSP), menjadi narasumber dalam dialog interaktif “Serba-Serbi Ramadan” di RRI Gorontalo, Rabu, 18 Maret 2026.

Siaran edukatif tersebut merupakan agenda rutin Radio Republik Indonesia untuk menyemarakkan Ramadan 1447 H, sekaligus membuka ruang literasi publik mengenai dinamika sosial, budaya, ekonomi, serta tradisi masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dalam dialog itu, Dedy mengangkat tradisi “Salam Tempel” yang di masyarakat Gorontalo dikenal sebagai “Uang Jakati”, yakni praktik pemberian uang kepada anak-anak sebagai simbol berbagi kebahagiaan dan keberkahan pada momen Idul Fitri. Ia menilai tradisi tersebut tidak semata bersifat seremonial, tetapi juga memiliki dimensi sosial-ekonomi dan pedagogis.

Menurut Dedy, tradisi uang jakati telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya lokal. Namun, jika dilihat dari perspektif ekonomi keluarga dan pendidikan, praktik ini dinilai memiliki potensi sebagai media pembelajaran keuangan sejak usia dini.

Dedy menuturkan, dalam praktiknya anak-anak kerap menggunakan uang Lebaran untuk konsumsi jangka pendek, seperti membeli mainan atau jajanan. Tanpa pendampingan orang tua, momentum tersebut berisiko kehilangan nilai edukatifnya.

“Tanpa bimbingan yang tepat, pengalaman menerima uang hanya menjadi peristiwa konsumtif sesaat. Padahal, ini dapat menjadi momen strategis untuk mengenalkan konsep dasar pengelolaan keuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang tua dapat memanfaatkan uang salam tempel melalui pendekatan sederhana untuk mengenalkan konsep finansial dasar, mulai dari menabung, perencanaan pengeluaran, hingga menentukan prioritas kebutuhan. Selain itu, tradisi tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan nilai kepedulian sosial melalui sedekah.

“Jika diarahkan dengan baik, tradisi ini dapat membentuk kebiasaan finansial yang sehat. Anak belajar bahwa uang memiliki fungsi produktif, bukan hanya konsumtif,” kata Dedy.