KIGALI, Rwanda — Chief Strategy Officer (CSO) XTransfer, Neil Ni, menjadi pembicara dalam Inclusive FinTech Forum 2026 di Rwanda pada 18 Maret 2026. Dalam forum tersebut, ia menyoroti perluasan XTransfer di Afrika serta upaya menghadirkan layanan keuangan yang lebih inklusif bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang terlibat dalam perdagangan internasional di kawasan itu.
Neil mengikuti diskusi panel bertajuk “Securing the Global Payments Highway: Cybersecurity for Real-Time Cross-Border Transactions”. Ia menyampaikan pandangan tentang langkah-langkah yang dapat ditempuh industri untuk memperkuat keamanan siber, pengendalian anti-pencucian uang (AML), dan ketahanan operasional seiring pembayaran lintas negara meningkat dari sisi kecepatan dan volume.
Berdasarkan pengalaman XTransfer dalam mendukung UKM perdagangan internasional, Neil menjelaskan bahwa pembayaran lintas negara B2B tradisional kerap melewati banyak bank koresponden. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan prosedur yang kompleks, keterlambatan penyelesaian, serta biaya tinggi yang berpotensi menekan arus kas UKM. Ia menyebut proses transfer dapat memakan waktu beberapa hari untuk terselesaikan, sementara biaya dapat berdampak signifikan bagi bisnis dengan margin ketat. Situasi ini, kata dia, kadang mendorong UKM beralih ke jalur yang tidak berlisensi, yang meningkatkan risiko kepatuhan dan transparansi.
“Seiring industri berkembang, tantangannya bukan hanya volume transaksi, tetapi juga kecepatan dan kepercayaan,” ujar Neil. Ia menekankan bahwa agar perdagangan yang sah tetap berjalan dengan aman, manajemen risiko dan kepatuhan perlu menjadi lebih cerdas, konsisten, dan dapat diskalakan.
Neil juga menyatakan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi fondasi kemampuan risiko dan kepatuhan XTransfer. Ia menyoroti TradePilot, model bahasa besar (LLM) yang dikembangkan perusahaan dan dirancang untuk sektor keuangan perdagangan luar negeri global. Menurutnya, sistem ini membantu mengidentifikasi pola mencurigakan lebih dini, memprioritaskan peringatan, mengurangi temuan positif palsu, serta mendukung keputusan yang lebih konsisten lintas pasar, sehingga memperkuat AML dan kepatuhan dengan tetap menjaga kecepatan layanan.
Dalam kesempatan yang sama, Neil memaparkan percepatan ekspansi XTransfer di Afrika. Ia menyebut perusahaan mencatat pertumbuhan lebih dari 300% di kawasan tersebut sepanjang 2025, seiring meningkatnya kebutuhan UKM akan pembayaran perdagangan lintas negara yang lebih cepat dan berbiaya lebih rendah. Ia menambahkan bahwa XTransfer berfokus bekerja sama dengan mitra ekosistem dan regulator untuk mendukung arus informasi lintas negara yang lebih aman dan terstandarisasi. Salah satu inisiatif yang disebutkan adalah pembangunan X-Net, yang diklaim sebagai yang pertama di industri untuk meningkatkan interoperabilitas dan standar keamanan bersama di berbagai jalur pembayaran.