Beijing kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu penopang stabilitas ekonomi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik regional, serta ketidakpastian pasar keuangan dunia. Pesan itu mengemuka dalam China Development Forum 2026 yang digelar di Beijing pada 24 Maret 2026.
Forum ekonomi tahunan tersebut menjadi ajang bagi pemerintah China untuk menyampaikan sinyal kepada pasar internasional bahwa negara itu tetap terbuka bagi bisnis, investasi asing, dan kerja sama perdagangan, meski hubungan dagang dengan Amerika Serikat masih berada dalam suasana tegang.
Di tengah risiko perlambatan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok, China berupaya memosisikan diri sebagai jangkar stabilitas. Perdana Menteri China Li Qiang, dalam pidatonya, menyampaikan komitmen pemerintah untuk memperluas akses pasar bagi investor asing, memberikan perlakuan setara bagi perusahaan global, serta menjaga stabilitas rantai pasok dan manufaktur.
China menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pada 2026, dengan penekanan pada konsumsi domestik, teknologi tinggi, dan peningkatan kualitas industri. Target tersebut dinilai penting mengingat kontribusi China sekitar 18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) global, sehingga pergerakannya berpengaruh luas terhadap perekonomian dunia.
Sejumlah perkiraan lembaga internasional menyebut perlambatan 1 persen ekonomi China berpotensi memangkas pertumbuhan mitra dagangnya sebesar 0,2–0,3 poin persentase. Dampak itu dapat menjalar ke berbagai kawasan, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
China Development Forum 2026 juga menonjol sebagai ajang diplomasi ekonomi. Tahun ini, sejumlah CEO perusahaan global hadir langsung, termasuk dari Apple, McDonald's, dan Mastercard. Kehadiran perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tersebut menjadi sorotan di tengah tensi Washington–Beijing terkait tarif, teknologi, dan pembatasan ekspor chip.
Meski menghadapi dinamika kebijakan dan tarif, nilai perdagangan bilateral AS–China masih melampaui US$ 500 miliar per tahun, meski disebut fluktuatif. Kondisi ini menggambarkan tingkat saling ketergantungan ekonomi kedua negara yang masih kuat.
Bagi investor global, China dipandang sebagai arena yang menuntut perhitungan “risk versus reward”. Sejumlah risiko mencakup ketegangan dagang AS–China, pembatasan teknologi semikonduktor, serta upaya diversifikasi rantai pasok ke Asia Tenggara dan India. Namun, daya tariknya tetap besar, mulai dari pasar domestik dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, ekosistem manufaktur yang luas, hingga percepatan investasi pada kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, dan energi bersih.
China juga mendorong konsep high-quality development dengan fokus pada teknologi tinggi dan swasembada industri strategis. Dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), sektor semikonduktor, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan disebut menjadi prioritas.
Di saat banyak perusahaan Barat menerapkan strategi “China+1” untuk diversifikasi produksi, sebagian besar masih mempertahankan fasilitas utama di China. Pertimbangannya antara lain efisiensi logistik dan kedalaman rantai pasok yang dinilai sulit digantikan dalam jangka pendek.
Salah satu catatan dari forum tahun ini adalah kuatnya partisipasi eksekutif perusahaan AS. Fenomena tersebut menggarisbawahi bahwa keputusan bisnis kerap bergerak lebih pragmatis dibanding dinamika politik, sekaligus menunjukkan bahwa integrasi ekonomi belum benar-benar terputus meski wacana decoupling dan fragmentasi ekonomi global terus menguat.
Secara strategis, forum ini dipandang sebagai sinyal bahwa Beijing ingin menenangkan pasar global, menarik kembali arus investasi asing langsung (FDI), dan mempertahankan perannya dalam stabilitas perdagangan dunia. Dalam kondisi ekonomi global yang rapuh, stabilitas China dinilai berpengaruh terhadap arus perdagangan, harga komoditas, serta rantai pasok manufaktur internasional.
Jika pertumbuhan China bertahan di kisaran 5 persen, dampaknya disebut dapat dirasakan oleh negara-negara Asia, termasuk Indonesia, terutama pada sektor komoditas, mineral, dan produk manufaktur antara yang terkait dengan perdagangan dan rantai pasok kawasan.
Di tengah ketidakpastian global, China berupaya menegaskan diri bukan hanya sebagai mesin pertumbuhan, tetapi juga sebagai penyeimbang risiko ekonomi dunia. Melalui komitmen keterbukaan investasi, penguatan teknologi, dan stabilitas rantai pasok, Beijing mengirim pesan bahwa mereka ingin tetap menjadi salah satu pusat gravitasi ekonomi global di era fragmentasi dan geopolitik yang memanas.