Bursa saham Australia ditutup melemah ke level terendah dalam 10 bulan pada Senin (23/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap memanasnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang dinilai berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan memicu tekanan inflasi global.
Indeks S&P/ASX-200 turun 0,7% ke 8.365,9, menjadi posisi terendah sejak akhir Mei 2025. Sepanjang bulan ini, indeks acuan tersebut telah terkoreksi lebih dari 9% dan diperkirakan mencatat kinerja bulanan terburuk sejak Mei 2022, ketika lonjakan inflasi dan kekhawatiran kenaikan suku bunga mengguncang pasar setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Tekanan jual juga membuat indeks ini diperkirakan mengalami penurunan Maret terlemah sejak aksi jual akibat COVID-19 pada 2020. Indeks kekuatan relatif (relative strength index/RSI) tercatat turun di bawah 30 untuk pertama kalinya sejak akhir November, yang mengindikasikan kondisi jenuh jual.
Kepala ekonom sekaligus kepala strategi investasi AMP, Shane Oliver, mengatakan pihaknya memperkirakan perang dan guncangan harga minyak terkait bersifat sementara, meski masih dapat berlanjut selama beberapa minggu dan mendorong harga minyak naik. Ia juga menilai saham Australia menghadapi risiko melemah setidaknya 15% tahun ini, dengan risiko besar terjadinya penurunan yang lebih dalam.
Secara keseluruhan, indeks acuan telah turun lebih dari 10% dari rekor tertinggi 9.202,90 yang dicapai pada 26 Februari 2026.
Tekanan terhadap pasar menguat setelah Iran menyatakan akan menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangganya di Teluk jika Washington menyerang jaringan listriknya. Pernyataan tersebut menyoroti meningkatnya risiko terhadap infrastruktur regional saat perang memasuki minggu keempat.
Sentimen pasar juga terbebani oleh sikap agresif Bank Sentral Australia pekan lalu, ketika memperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akibat konflik dapat memperburuk inflasi jika berlangsung lama. Investor kini menanti rilis data inflasi Februari yang dijadwalkan pada Rabu (25/3/2026).
Dari sisi sektoral, saham keuangan yang sensitif terhadap suku bunga turun 0,6% ke level terendah dua minggu. Empat bank besar tercatat melemah di kisaran 0,8% hingga 1,8%.
Sektor pertambangan juga tertekan, turun 2,6%. Saham Rio Tinto melemah 1,7% dan BHP turun 0,8%. Sementara itu, saham perusahaan tambang emas anjlok 7,3% ke level terendah sejak akhir September 2025, seiring turunnya harga emas batangan.
Berbeda arah, saham-saham energi naik 1,2% terdorong lonjakan harga minyak.
Di kawasan Pasifik, indeks acuan S&P/NZX 50 Selandia Baru turut turun 0,7% ke 12.899,72 poin.