Pasar saham Amerika Serikat bergerak melemah dalam sepekan terakhir perdagangan (09/03–13/03). Indeks-indeks utama kompak ditutup turun di tengah kombinasi sentimen yang berubah cepat, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak.
Di awal pekan, pasar sempat mendapatkan dorongan positif setelah langkah pelepasan cadangan minyak oleh sejumlah negara Teluk dan Amerika Serikat membantu meredam harga minyak mentah WTI hingga sekitar US$80 per barel. Namun, sentimen tersebut berbalik ketika ketegangan meningkat. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran serta rencana Donald Trump untuk menyerang fasilitas minyak Iran mendorong WTI kembali naik hingga sekitar US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak dan konflik yang belum menunjukkan titik terang memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi. Dengan risiko inflasi yang meningkat, pasar menilai suku bunga berpotensi bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), kondisi yang umumnya menekan valuasi aset berisiko termasuk saham.
Di sisi geopolitik, Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan dan menegaskan pemerintah AS memiliki rencana untuk menstabilkan pasar energi yang bergejolak akibat perang. Pernyataan ini sempat menenangkan pasar setelah sebelumnya harga minyak melonjak tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Meski begitu, ketidakpastian dinilai tetap tinggi karena konflik militer masih berlangsung dan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi maupun kapal tanker di kawasan Teluk berpotensi mengganggu arus minyak global.
Amerika Serikat juga berencana melepas sekitar 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menstabilkan harga energi. Kebijakan ini merupakan bagian dari pelepasan cadangan strategis terbesar yang dikoordinasikan International Energy Agency (IEA) dengan total sekitar 400 juta barel, dengan pengiriman dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung sekitar 120 hari. Langkah tersebut diproyeksikan dapat meredam lonjakan harga minyak dalam jangka pendek, meski dampaknya dinilai berpotensi sementara karena sumber utama gangguan pasokan berasal dari risiko geopolitik dan terhentinya pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Tekanan pasar juga dipengaruhi perkembangan di Selat Hormuz. Mojtaba Khamenei disebut mempertahankan tekanan geopolitik dengan mengancam dan membatasi lalu lintas di jalur yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia itu, menyusul konflik militer dengan AS dan Israel yang memicu serangan terhadap kapal tanker serta meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk. Gangguan ini menyebabkan arus tanker turun tajam dan mendorong harga minyak global melonjak, memicu volatilitas pasar saham serta kekhawatiran lonjakan inflasi energi.
Di luar isu energi, data perdagangan China turut menjadi perhatian. Surplus perdagangan China pada dua bulan pertama 2026 dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam sejarah, mencapai sekitar US$213,62 miliar, melampaui ekspektasi pasar sekitar US$196,6 miliar. Kinerja tersebut didorong ekspor yang naik 21,8% secara tahunan menjadi sekitar US$656,58 miliar, sementara impor meningkat 19,8% menjadi sekitar US$442,96 miliar. Pertumbuhan ekspor terutama ditopang permintaan global untuk produk teknologi seperti semikonduktor, elektronik, kendaraan listrik, sel surya, dan baterai lithium di tengah gelombang investasi AI global.
Sejumlah saham mencatat kenaikan tertinggi dalam sepekan terakhir. Lima top gainer mingguan adalah SNDK naik 20,68%, CF menguat 15,69%, MU naik 12,10%, MOS bertambah 10,11%, dan BG meningkat 10,03%.
Dari sisi korporasi, beberapa emiten besar merilis pembaruan penting. Hewlett Packard Enterprise (HPE) menaikkan outlook 2026 seiring lonjakan permintaan infrastruktur AI, termasuk target AI networking orders sekitar US$1,7–1,9 miliar serta proyeksi adjusted EPS US$2,30–US$2,50. Microsoft mengumumkan dividen tunai kuartalan sebesar US$0,91 per saham yang akan dibayarkan pada 12 Maret 2026 kepada pemegang saham tercatat pada 19 Februari 2026, dengan tanggal ex-dividend pada 19 Februari 2026.
Oracle melaporkan kinerja fiscal 3Q26 yang melampaui ekspektasi, dengan EPS US$1,79 dan pendapatan sekitar US$17,2 miliar, didorong pertumbuhan kuat pada bisnis cloud dan AI infrastructure. Alphabet melalui Google mengakuisisi perusahaan cybersecurity cloud Wiz senilai sekitar US$32 miliar untuk memperkuat keamanan di Google Cloud, sementara platform Wiz tetap bersifat multicloud.
Di sektor energi, Chevron dan Shell dilaporkan semakin dekat menandatangani kesepakatan produksi minyak besar pertama di Venezuela sejak penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh AS pada awal 2026, seiring reformasi hukum energi yang memberi perusahaan asing lebih banyak kendali atas proyek. Jika terealisasi, ekspansi ini berpotensi meningkatkan suplai minyak global dalam jangka menengah dan sebagian mengimbangi risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Sementara itu, Adobe membukukan hasil fiscal 1Q26 di atas ekspektasi, namun sahamnya turun dalam perdagangan setelah jam bursa menyusul kabar CEO lama Shantanu Narayen akan mundur setelah sekitar 18 tahun memimpin. Ulta Beauty melaporkan pendapatan Q4 2025 naik 11,8% menjadi US$3,9 miliar, tetapi laba per saham terdilusi turun seiring tekanan margin, dan perusahaan memberi panduan konservatif untuk fiskal 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi serta persaingan ritel yang ketat.
Dengan konflik yang masih berlangsung dan jalur energi di Selat Hormuz yang berisiko terganggu, pelaku pasar menilai volatilitas berpotensi bertahan. Pergerakan harga minyak, arah inflasi, dan ekspektasi suku bunga diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang membentuk sentimen pasar saham AS dalam waktu dekat.