BERITA TERKINI
Bursa Australia dan Jepang Menguat Usai Penundaan Rencana Serangan AS ke Iran

Bursa Australia dan Jepang Menguat Usai Penundaan Rencana Serangan AS ke Iran

Pasar saham Australia berbalik menguat pada perdagangan Selasa (24/3) setelah melemah selama tiga hari berturut-turut. Penguatan terjadi seiring membaiknya sentimen investor menyusul penundaan rencana serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur energi Iran.

Indeks acuan S&P/ASX 200 naik 1,1% ke level 8.457,20 dan berpotensi mencatatkan kinerja harian terbaik sejak akhir Februari. Kenaikan ini terjadi setelah indeks pada sesi sebelumnya ditutup melemah 0,7%.

Perbaikan sentimen dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya pembicaraan produktif dengan pihak Iran, meski klaim tersebut dibantah oleh Teheran. Penundaan aksi militer dinilai meredakan kekhawatiran geopolitik dan mendorong minat investor terhadap aset berisiko.

Di Australia, saham sektor tambang menjadi penopang utama dengan kenaikan sekitar 4,1% seiring naiknya harga bijih besi. Saham emiten besar seperti Rio Tinto dan BHP Group masing-masing naik lebih dari 3%.

Sektor emas juga menguat lebih dari 5% didorong pemulihan harga logam mulia setelah sempat terkoreksi tajam sehari sebelumnya. Sementara itu, saham sektor keuangan naik sekitar 1,3% dengan mayoritas bank besar mencatatkan penguatan.

Berbeda dengan sektor lain, saham energi justru tertekan dan turun hingga 4,1% mengikuti pelemahan harga minyak. Saham perusahaan energi seperti Santos dan Woodside Energy masing-masing melemah sekitar 3%.

Di tengah penguatan pasar saham, data domestik menunjukkan kepercayaan konsumen Australia turun ke level terendah dalam lebih dari 50 tahun. Kenaikan biaya kredit dan lonjakan harga bahan bakar disebut menjadi faktor yang menekan prospek ekonomi.

Pergerakan serupa terlihat di Jepang. Indeks Nikkei melonjak 2,1% setelah sebelumnya anjlok 3,5% pada sesi sebelumnya, sedangkan indeks Topix naik 2,4%. Penguatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap potensi meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Meski sentimen membaik, volatilitas pasar dinilai masih tinggi karena perkembangan konflik dan pernyataan politik dari AS terus memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.