Pasar saham Asia-Pasifik melemah pada Senin, 2 Maret 2026, seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat–Israel yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Situasi memanas setelah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump pada Minggu menyatakan operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS dilaporkan tewas.
Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga komoditas energi. Kontrak berjangka minyak naik lebih dari 8 persen, dengan West Texas Intermediate (WTI) terakhir diperdagangkan di USD72,52 per barel dan Brent di USD79,04 per barel.
Permintaan aset lindung nilai juga meningkat. Kontrak berjangka emas tercatat naik 2,3 persen, seiring investor mencari aset safe haven global.
Sejumlah indeks utama di kawasan berada di zona merah. S&P/ASX 200 Australia turun 0,61 persen ke 9.142,40. Hang Seng Hong Kong melemah 1,27 persen ke 26.291,21. KOSPI Korea Selatan tercatat turun 1,00 persen ke 6.244,13, sementara Nikkei 225 Jepang turun 1,02 persen ke 58.247,76. Indeks Shanghai turun 0,28 persen ke 4.151,043, sedangkan Nifty 50 India tercatat tidak berubah di 25.178,65.
Di Jepang, Nikkei 225 sempat merosot hampir 2 persen pada pembukaan perdagangan, sementara Topix turun 2,1 persen. Di tengah pelemahan pasar, saham Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI—yang memiliki bisnis pertahanan—naik lebih dari 1 persen.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,38 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di 26.465, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.630,54. Pasar Korea Selatan dilaporkan tutup karena hari libur nasional.
Tekanan juga terlihat pada aset berisiko di Amerika Serikat. Kontrak berjangka saham AS melemah dalam perdagangan semalam setelah serangan akhir pekan di Iran, dengan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 517 poin atau sekitar 1 persen.

