Bursa saham Asia dibuka menguat pada perdagangan Kamis (26/2), mengikuti kenaikan di Wall Street. Namun, penguatan tersebut cenderung terbatas seiring investor menunjukkan respons yang tidak terlalu antusias terhadap proyeksi penjualan Nvidia Corp., meski angkanya melampaui ekspektasi.
Indeks MSCI Asia Pasifik tercatat naik 0,8%. Di sisi lain, saham Nvidia kehilangan momentum dan menghapus keuntungan awal pada perdagangan setelah jam bursa. Pada saat yang sama, kontrak berjangka indeks saham AS melemah tipis pada awal sesi Asia.
Pergerakan ini mengisyaratkan bahwa prospek Nvidia yang dinilai cerah belum cukup untuk memukau pelaku pasar. Situasi tersebut juga mencerminkan kekhawatiran bahwa ekonomi berbasis kecerdasan buatan (AI) berpotensi terlalu panas masih membayangi perusahaan tersebut.
Di Amerika Serikat pada perdagangan Rabu waktu setempat, indeks S&P 500 naik 0,8% dan Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi melonjak 1,4%. Di pasar obligasi, harga Treasury AS turun di seluruh tenor, sementara dolar AS melemah tipis.
Komoditas logam mulia bergerak fluktuatif tetapi ditutup di zona hijau. Sementara itu, Bitcoin turun 1,5% ke bawah level US$68.000.
Sebelumnya, pasar menantikan proyeksi optimistis dari Nvidia—yang kerap dipandang sebagai barometer perkembangan AI—untuk kembali menyuntikkan energi ke sektor tersebut. Harapannya, panduan kinerja yang kuat dapat meredakan kecemasan bahwa lonjakan valuasi saham sudah melampaui fundamental.
Dengan sinyal bahwa pembangunan infrastruktur komputasi AI masih berada di jalurnya, proyeksi Nvidia dinilai berpotensi memperkuat ekspektasi laba di sepanjang rantai pasok semikonduktor. Kondisi ini juga bisa menjadi pendorong bagi produsen cip di Asia, meski reaksi pasar menunjukkan optimisme yang belum sepenuhnya solid.

