Saham-saham Asia menguat pada Rabu (25/3/2026), sementara mata uang regional bergerak relatif stabil. Sentimen pasar membaik setelah harga minyak merosot menyusul laporan bahwa Washington tengah berupaya mencapai gencatan senjata selama sebulan dengan Iran.
Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan, sekaligus memberi ruang napas bagi ekonomi Asia yang bergantung pada impor minyak. Indeks MSCI untuk pasar negara berkembang naik 1,6% dan mencatat kenaikan dua sesi berturut-turut, sedangkan indeks mata uang pasar negara berkembang MSCI cenderung datar.
Investor juga menilai positif laporan bahwa Amerika Serikat telah mengirim proposal 15 poin ke Teheran dan mendorong pelonggaran ketegangan di Selat Hormuz, jalur pengiriman sekitar 20% minyak dunia. Konflik di kawasan itu sebelumnya mengganggu penerbangan melalui hub Teluk dan mendorong pemerintah-pemerintah di Asia mengambil langkah untuk mengamankan pasokan bahan bakar, menghemat energi, serta melindungi rumah tangga dari lonjakan harga.
Meski harga minyak Brent turun lebih dari 5% dan kembali di bawah US$100 per barel, level tersebut masih tergolong tinggi setelah sempat menembus US$110 pada awal pekan. Kondisi ini tetap menambah tekanan bagi negara-negara Asia yang merupakan importir bersih minyak.
Di pasar saham, Taiwan naik 2,5% dari level tertinggi sebelumnya, sementara saham Korea Selatan menguat 1,6% meski memangkas sebagian kenaikan awal. Sektor teknologi yang sebelumnya terpukul mulai pulih. Saham Thailand naik 2,3%, sedangkan pasar di Kuala Lumpur, Singapura, India, dan Manila menguat di kisaran 0,4% hingga 2,2%.
Namun, arus dana asing masih menjadi perhatian. Investor asing telah menarik miliaran dolar dari pasar teknologi Taiwan dan Korea Selatan sejak konflik dimulai, menekan won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang masing-masing turun sekitar 4% dan 2,3% sepanjang bulan ini.
Di Thailand, pemerintah Bangkok mencabut plafon harga solar sehingga harga energi domestik kini mengikuti mekanisme pasar. Analis Maybank menilai jalur aman bagi kargo Bangchak melalui Hormuz menunjukkan Iran masih memungkinkan transit komersial terkoordinasi, yang meredakan kekhawatiran tentang blokade penuh. Meski demikian, baht tetap melemah 0,6%.
Di Indonesia, pasar kembali dibuka setelah libur lima hari. Rupiah menguat 0,4% meski masih berada di bawah level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Bank Indonesia disebut telah memperketat sejumlah aturan valas dan menyatakan komitmen untuk mendukung stabilitas mata uang.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,3% setelah sempat mencetak rekor terendah pada pekan ini. Presiden Ferdinand Marcos Jr menyatakan Filipina memiliki cadangan minyak lebih dari 45 hari setelah menetapkan status darurat energi. Rupee India turun 0,1% setelah sebelumnya mencapai level terendah baru, dengan intervensi bank sentral diperkirakan membantu memenuhi permintaan dolar yang tinggi.