Bursa saham Asia ditutup melemah pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan berpotensi menunda ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, sehingga menekan sentimen investor dan memicu aksi jual di sejumlah indeks utama kawasan.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 ditutup di level 54.374,11, turun 1.904,94 poin atau 3,38% dibanding sesi sebelumnya. Penurunan terjadi ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Tekanan lebih besar terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok 346,65 poin atau 5,99% ke posisi 5.445,26, seiring aksi jual pada saham teknologi dan semikonduktor yang memiliki bobot besar dalam indeks. Sentimen pasar turut terbebani oleh lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
“Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan inflasi dan menunda pemangkasan suku bunga global, yang menjadi tekanan bagi pasar saham,” kata analis pasar global dalam laporan Reuters, 4 Maret 2026.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 428,03 poin atau 1,66% menjadi 25.340,05, mencerminkan tekanan regional di tengah kekhawatiran atas dampak geopolitik terhadap ekonomi global.
Sementara itu, di China daratan, indeks SSE Composite turun 34,36 poin atau 0,83% ke level 4.088,32. Pelemahan di pasar China relatif lebih terbatas dibandingkan bursa Asia lainnya, meski tetap mengikuti sentimen kawasan.
Investor global kini mencermati potensi gangguan pasokan energi serta implikasinya terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter global. “Investor mulai menilai kembali dampak konflik terhadap pasokan energi global dan dampaknya terhadap ekonomi serta pasar keuangan,” kata analis pasar dalam laporan Reuters, 4 Maret 2026.

