Pergerakan bursa Asia pada perdagangan Senin, 6 April 2026, berlangsung tidak seragam di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Sebagian indeks masih mampu menguat, namun tekanan terlihat di pasar lain seiring pelaku pasar menyesuaikan risiko.
Sentimen hari itu lebih banyak dipengaruhi perkembangan geopolitik ketimbang data ekonomi. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ancaman terhadap Iran dan isu pembukaan Selat Hormuz mengalihkan fokus pelaku pasar ke jalur energi global yang krusial bagi distribusi minyak dunia. Setiap potensi gangguan di kawasan ini dinilai cepat memicu respons lintas aset.
Di Jepang, Nikkei 225 menguat 1,34%, sementara Topix naik 0,66%. Penguatan ini mencerminkan masih adanya aliran dana yang mencari peluang di pasar dengan likuiditas tinggi.
Namun, tekanan terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi turun 1,14% dan Kosdaq melemah 1,55%, mencerminkan sikap pasar yang lebih defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Fragmentasi pergerakan juga dipengaruhi minimnya partisipasi pasar karena sejumlah bursa utama tidak beroperasi akibat libur panjang. Bursa di Hong Kong, Australia, Selandia Baru, China daratan, dan Taiwan dilaporkan tutup, membuat likuiditas regional menipis dan pergerakan harga lebih sensitif terhadap sentimen global.
Di pasar mata uang, kehati-hatian terlihat dari penguatan yen Jepang yang naik tipis ke 159,57 per dolar AS. Dolar Singapura dan yuan juga tercatat menguat. Sementara itu, rupiah melemah 0,34% ke level 17.038 per dolar AS, mengindikasikan tekanan yang mulai terasa pada aset berisiko di emerging markets.
Pergerakan mata uang tersebut sejalan dengan lonjakan harga energi. Minyak mentah melanjutkan kenaikan, dengan Brent naik 1,6% ke USD110,74 per barel dan WTI menguat ke USD112,25 per barel. Kenaikan terjadi di tengah gangguan distribusi akibat konflik yang melibatkan Iran serta kondisi jalur Selat Hormuz yang disebut belum sepenuhnya pulih.
Lonjakan harga minyak menjadi penggerak utama sentimen pasar. Gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong pembeli global mencari alternatif sumber pasokan, terutama dari Amerika Serikat dan Laut Utara. Permintaan terhadap kargo fisik meningkat, yang tercermin pada kenaikan harga Brent yang bergerak lebih cepat.
Di pasar saham, kenaikan harga minyak dipandang memiliki dua sisi. Sektor energi berpotensi mendapat dukungan dari prospek pendapatan, namun biaya energi yang lebih tinggi dapat menekan sektor lain, khususnya industri yang sensitif terhadap biaya operasional dan konsumsi.
Kombinasi risiko geopolitik, kenaikan harga energi, serta likuiditas yang terbatas membentuk pola perdagangan yang cenderung defensif. Arah pasar selanjutnya dinilai masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dalam waktu dekat. Jika ketegangan berlanjut, volatilitas berpotensi tetap terjaga.