Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan memicu kekhawatiran pasar. Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat untuk menghadapi dinamika tersebut, dengan stabilitas domestik yang tetap terjaga.
Laporan terbaru BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai ketahanan itu ditopang oleh likuiditas yang memadai, disiplin fiskal, serta kebijakan moneter yang adaptif. BRIDS mencatat eskalasi konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memicu volatilitas pasar dan mengganggu rantai pasok energi dunia.
Menurut BRIDS, konflik AS–Iran dapat mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi aliran minyak global. Namun, dampaknya terhadap Indonesia dinilai masih dapat dikelola karena transmisi risiko terutama terjadi melalui kanal perdagangan dan sektor keuangan yang sudah teridentifikasi.
Dari sisi domestik, salah satu penopang stabilitas disebut berasal dari kebijakan pemerintah memperpanjang penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun hingga September 2026. Langkah ini dinilai membantu menjaga likuiditas perbankan tetap longgar di tengah ketidakpastian global.
Kondisi likuiditas yang terjaga turut menekan biaya dana dan membantu menjaga stabilitas sektor keuangan. BRIDS juga mencatat pertumbuhan jumlah uang beredar dan kredit menunjukkan tren positif, yang mencerminkan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan.
Meski risiko global dinilai tetap ada, BRIDS menyoroti potensi kenaikan harga energi sebagai salah satu faktor yang dapat memberi tekanan. Kenaikan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga global. BRIDS menyebut harga energi yang lebih tinggi berisiko menciptakan tekanan reflasi dan menunda penurunan suku bunga, sehingga kekhawatiran stagflasi dapat kembali muncul.
Namun, BRIDS menilai risiko perlambatan ekonomi global lebih terbatas dibanding periode pengetatan moneter sebelumnya, mengingat suku bunga global sudah menurun dibandingkan puncaknya pada 2023.
Dari sisi fiskal, BRIDS menilai posisi Indonesia masih berada dalam koridor aman. Defisit anggaran tercatat di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto, yang mencerminkan konsistensi pengelolaan fiskal. Rasio utang pemerintah juga dinilai relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara, sehingga memberi ruang kebijakan bagi pemerintah untuk merespons dinamika global bila diperlukan.
BRIDS menambahkan, cadangan devisa yang stabil serta instrumen kebijakan Bank Indonesia turut menjadi bantalan tambahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di pasar keuangan, arus keluar dana asing sempat terjadi seiring meningkatnya risiko global. Meski begitu, likuiditas domestik dinilai mampu mengimbangi tekanan tersebut.
Secara keseluruhan, BRIDS menilai tekanan akibat meningkatnya risiko global masih dapat dikelola tanpa memicu disrupsi besar. Kombinasi likuiditas yang kuat, fiskal yang disiplin, serta kebijakan moneter yang responsif disebut menjadi fondasi utama ketahanan ekonomi nasional.

