Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias Selatan dalam lima tahun terakhir tercatat menunjukkan tren positif. Namun, pada 2025 laju pertumbuhan mengalami perlambatan dan hanya mencapai 3,04 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nias Selatan, Julasman Manurung, menjelaskan perlambatan tersebut terjadi secara merata di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah kebijakan efisiensi yang diberlakukan pemerintah.
Ia menyebut, struktur pergerakan ekonomi di Nias Selatan relatif banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah. Karena itu, ketika kebijakan efisiensi diterapkan, dampaknya langsung terasa pada aktivitas ekonomi daerah. Pernyataan tersebut disampaikan Julasman saat memaparkan materi “Indikator Makro Kabupaten Nias Selatan” pada Musrenbang RKPD 2027 Kabupaten Nias Selatan, Jumat, 13 Maret 2026, di aula Bapperida Nias Selatan.
Dalam pemaparannya, Julasman juga menyinggung keterkaitan pertumbuhan ekonomi dengan dinamika kemiskinan. Ia menyatakan angka kemiskinan memang menunjukkan penurunan, namun penurunannya dinilai belum signifikan atau masih berlangsung bertahap. Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selain itu, BPS Nias Selatan turut menyampaikan data perbandingan pengeluaran dan konsumsi masyarakat antara 2024 dan 2025. Data tersebut menunjukkan porsi pengeluaran untuk makanan menurun, sementara pengeluaran nonmakanan meningkat.
Meski demikian, Julasman menyoroti besarnya pengeluaran masyarakat untuk rokok yang masih lebih tinggi dibanding beberapa sumber pangan bergizi. Ia menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu didukung melalui pola konsumsi yang lebih sehat dan produktif.