BERITA TERKINI
BPR Jwalita Trenggalek Catat Pertumbuhan 2025, Perkuat Layanan Digital dan Program Keuangan Berkelanjutan

BPR Jwalita Trenggalek Catat Pertumbuhan 2025, Perkuat Layanan Digital dan Program Keuangan Berkelanjutan

PT BPR Jwalita Trenggalek (Perseroda) mencatat kinerja yang tumbuh sepanjang 2025 di tengah dinamika perekonomian daerah dan kebutuhan penguatan sektor keuangan lokal. Bank perekonomian rakyat milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ini membukukan peningkatan pada sejumlah indikator utama, ditopang kinerja keuangan, pengembangan layanan digital, serta program yang diklaim berkontribusi pada pembangunan daerah.

Sepanjang 2025, total aset BPR Jwalita meningkat menjadi Rp179,39 miliar, sementara laba tahun berjalan tercatat Rp2,74 miliar. Penghimpunan dana dan penyaluran kredit juga disebut berada pada jalur yang sehat dan terukur.

Direktur Utama PT BPR Jwalita Trenggalek (Perseroda) Dwi Fraidianriani mengatakan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi strategi bisnis, penguatan tata kelola, dan keberpihakan pada kebutuhan masyarakat Trenggalek. Ia juga menilai proses penjurian TOP BUMD memberikan manfaat evaluasi bagi perusahaan. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness secara daring pada Kamis (19/02/2026).

Dari sisi kesehatan bank, posisi per 31 Desember 2025 disebut berada dalam kategori sehat sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tercatat 50,56 persen, di atas batas minimal 8 persen. Return on Assets (ROA) mencapai 2,37 persen, sedangkan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berada di level 83,13 persen.

Likuiditas bank ditopang cash ratio 27,39 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) 85,20 persen. Sementara itu, kualitas aset tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross 4,69 persen dan NPL nett 3,28 persen, yang masih berada di bawah ambang batas sehat.

Realisasi kinerja 2025 juga dilaporkan melampaui sejumlah target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Penghimpunan tabungan mencapai Rp58,25 miliar atau 114,44 persen dari target. Total aset terealisasi Rp179,39 miliar atau 109,18 persen dari target. Penyaluran kredit tercatat Rp120,62 miliar atau hampir 99 persen dari target, sementara laba bersih tahun berjalan Rp2,74 miliar atau 103,03 persen dari target.

Secara tahunan, aset meningkat dari Rp154,08 miliar pada 2024 menjadi Rp179,39 miliar pada 2025. Laba naik dari Rp2,61 miliar menjadi Rp2,74 miliar. Pertumbuhan penghimpunan dana didorong penguatan produk, khususnya Tabungan Simarmas melalui program Simarmas Go, Simarmas Jwalita, dan Simarmas Go Batch 2 yang disebut menjaring lebih dari 4.500 peserta. Selain itu, sinergi antar-BPR milik daerah serta kerja sama penempatan dana turut disebut menjadi faktor pendukung.

Di bidang layanan, BPR Jwalita memperkuat transformasi digital melalui pengembangan Aplikasi Trenggalek Access berbasis e-money. Menurut Dwi, aplikasi ini mendukung transaksi seperti PPOB, transfer antarbank, QRIS, hingga pembayaran hasil pengelolaan sampah melalui Program Sangu Sampah.

Aplikasi Trenggalek Access dikembangkan melalui skema co-branding dan telah memperoleh perizinan dari OJK serta Bank Indonesia. Ke depan, aplikasi tersebut direncanakan berkembang menjadi mobile banking yang terintegrasi dengan rekening BPR, sehingga nasabah dapat melakukan cek saldo, mutasi rekening, top up, dan transaksi lainnya secara mandiri.

Selain digitalisasi, BPR Jwalita juga menjalankan Program Tabungan Sangu Sampah yang mengintegrasikan inklusi keuangan dengan kepedulian lingkungan. Program ini melibatkan pelajar dan masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik yang kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi. Sampah anorganik dikonversi menjadi rupiah, sementara bank berperan membayarkan hasil pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Program tersebut disebut sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Trenggalek menuju net zero carbon sebagaimana tertuang dalam RPJPD 2025–2045, serta mendukung penerapan keuangan berkelanjutan sesuai POJK Nomor 51 Tahun 2017.

Dalam penyaluran pembiayaan, BPR Jwalita menyatakan konsisten melayani sektor UMKM yang menyerap lebih dari 46 persen total kredit. Program literasi keuangan dan pembiayaan mikro tanpa agunan di pasar tradisional disebut telah berjalan lebih dari satu dekade dan dikaitkan dengan upaya pemberantasan praktik rentenir. Perseroan juga mengembangkan pembiayaan bagi Pekerja Migran Indonesia serta pembiayaan pendidikan luar negeri.

Sebagai badan usaha milik daerah, BPR Jwalita juga melaporkan kontribusi kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dari modal awal Rp20 miliar, perseroan menyebut telah menyetorkan hampir Rp15 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Dwi menyatakan kontribusi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.