Bank Indonesia (BI) melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tumbuh 9,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 8,3% yoy. Dengan kenaikan tersebut, posisi M2 tercatat mencapai Rp10.333,1 triliun.
BI menyatakan perkembangan M2—yang mencerminkan likuiditas perekonomian—terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan perkembangan penyaluran kredit. Pernyataan itu disampaikan dalam laporan BI pada Jumat (22/1/2026).
Dalam periode yang sama, tagihan kepada Pemerintah Pusat tumbuh 13,6% yoy, naik dari periode sebelumnya 8,7% yoy. Sementara itu, penyaluran kredit mencatat pertumbuhan 9,3% yoy, lebih tinggi dibandingkan November yang sebesar 7,9% yoy.
Data tersebut menggambarkan kondisi likuiditas yang longgar di sistem keuangan dan berpotensi menopang aktivitas ekonomi. Namun, BI juga mencatat bahwa peningkatan likuiditas tidak serta-merta berujung pada penyaluran pembiayaan produktif secara langsung.
Pertumbuhan M2 pada Desember 2025 terutama ditopang oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) yang mencapai 14%. M1 mencerminkan komponen uang yang paling likuid, seperti giro, tabungan yang dapat ditarik sewaktu-waktu, serta uang kartal. Secara teori, kondisi likuiditas yang tinggi dapat mendorong kelancaran transaksi, konsumsi, dan investasi.

