Bank Indonesia (BI) menyiapkan langkah kalibrasi instrumen intervensi rupiah untuk mengantisipasi dampak perang di Timur Tengah. Kalibrasi tersebut disesuaikan dengan tiga skenario dampak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, yang dibedakan berdasarkan tingkat kenaikan harga minyak dunia: tidak terlalu tinggi, menengah, dan tinggi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, langkah itu diperkuat dengan upaya menjaga kecukupan cadangan devisa serta respons kebijakan suku bunga. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
“Kami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” kata Perry Warjiyo.
BI menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar melalui skema triple intervention. Instrumen tersebut mencakup intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Menurut BI, kalibrasi ketiga instrumen akan bergantung pada seberapa jauh eskalasi perang berlangsung. Pertimbangan mencakup dampaknya terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi dan inflasi global, pergerakan dolar AS, aliran portofolio keluar dari negara berkembang, serta tingkat imbal hasil (yield) US Treasury.
Dalam dua hari terakhir, bertepatan dengan pelaksanaan RDG BI pada Senin (16/3) dan Selasa (17/3), bank sentral melakukan perhitungan skenario untuk menilai kemungkinan durasi, intensitas, dan dampak perang terhadap berbagai indikator ekonomi.
BI menilai dampak awal paling langsung terlihat pada harga minyak dunia dan rambatannya terhadap pertumbuhan ekonomi serta inflasi global. Kondisi ini diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1% dari proyeksi sebelumnya 3,2%. Sementara itu, tekanan inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%, yang dinilai mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global.