Bank Indonesia (BI) mengumumkan penyesuaian ambang batas (threshold) transaksi valuta asing (valas) terhadap rupiah yang akan berlaku mulai 1 April 2026. Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah adaptif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas ekonomi global.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penyesuaian mencakup penurunan ambang batas pembelian tunai valas serta peningkatan kapasitas transaksi instrumen derivatif. “Kebijakan ini dirumuskan untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap Rupiah dan memastikan dinamika pasar valas domestik tetap berjalan sehat,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (18/3/2026).
Dalam ketentuan terbaru, BI memangkas ambang batas pembelian tunai valas terhadap rupiah dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per pelaku per bulan untuk transaksi tanpa dokumen pendukung (underlying).
Di sisi lain, BI menaikkan threshold transaksi derivatif. Batas transaksi jual Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta transaksi jual-beli swap meningkat dari US$5 juta menjadi US$10 juta per transaksi.
Penyesuaian juga berlaku pada lalu lintas devisa (LLD). Kewajiban penyertaan dokumen pendukung untuk transfer dana ke luar negeri (outgoing) dalam valas diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan pemerintah memberikan masa transisi hingga 30 April 2026. Ia menegaskan pembelian valas di atas plafon US$50.000 tetap dapat dilakukan oleh masyarakat maupun pelaku usaha, sepanjang menyertakan dokumen underlying yang sah.
“Kami mencermati pola transaksi di pasar domestik. Penyesuaian ini bersifat adaptif untuk merespons dinamika pasar keuangan global maupun domestik agar tetap efisien,” kata Ramdan.
BI menilai kebijakan ini dapat meredam spekulasi di pasar valas ritel sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan melalui instrumen derivatif dengan kapasitas transaksi yang lebih besar. Dengan pengetatan pada sisi tunai dan pelonggaran pada sisi derivatif, BI berupaya mengarahkan transaksi valas ke sektor yang lebih produktif dan terukur.