Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia memberi dampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara, menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
“Melonjaknya harga minyak dunia berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antar negara prospek sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global,” kata Perry dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret 2026, Selasa (17/3).
Perry menambahkan, dampak perang tidak hanya terlihat pada sisi ekonomi riil, tetapi juga pada pasar keuangan global. Ia menyebut kondisi pasar keuangan memburuk seiring menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat, meningkatnya yield US Treasury, serta terjadinya arus modal keluar dari negara-negara emerging market.
Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 akan melambat menjadi 3,1% dari proyeksi sebelumnya 3,2%, meskipun terjadi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat.
Di sisi lain, tekanan inflasi global diproyeksikan meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%. Perry menilai kenaikan inflasi ini mempersempit peluang penurunan kebijakan moneter global, termasuk kemungkinan tertundanya penurunan Fed Fund Rate.
Perry juga menyoroti yield US Treasury yang terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal di Amerika Serikat, termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang. “Premi resiko investasi global meningkat sehingga mengakibatkan bergesernya aliran modal ke safe heaven aset terutama ke pasar uang Amerika Serikat,” ujarnya.
Bank Indonesia, lanjut Perry, mencatat indeks mata uang dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang juga terus menguat di tengah kondisi tersebut.